RAKYATKU.COM, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat solid di angka 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Laporan riset Permata Institute for Economic Research (PIER) menunjukkan adanya pergeseran menarik pada mesin pertumbuhan nasional, di mana sektor investasi mulai mengambil peran lebih besar di tengah perlambatan musiman konsumsi rumah tangga pasca-Lebaran.
Secara akumulatif, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang semester I 2026 berhasil tumbuh 5,45 persen YoY, melampaui capaian periode yang sama tahun lalu sebesar 5,00 persen. Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi melaju dari 5,96 persen menjadi 6,87 persen YoY, menopang konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,06 persen.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menilai pergeseran ini sebagai sinyal positif bahwa struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin seimbang dan tidak bertumpu tunggal pada belanja masyarakat. PIER memproyeksikan keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 akan mencapai 5,26 persen YoY.
Baca Juga : Rakerkonas APINDO XXXV di Makassar: Dorong Reformasi Hulu Sektor Riil untuk Mencegah Gelombang PHK
Poin-Poin Strategis Analisis Ekonomi Kuartal II 2026:
Penguatan Sektor Pembangunan: Investasi bangunan dan struktur naik pesat menjadi 6,61 persen YoY, didorong oleh proyek infrastruktur pemerintah seperti program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Geliat Sektor Jasa: Sektor Listrik dan Gas memimpin pertumbuhan sektoral hingga 10,81 persen YoY, disusul ketahanan sektor Akomodasi dan Makan Minum yang tumbuh 11,83 persen selama semester I.
Baca Juga : Peringati Hari Anak Nasional 2026, Pegadaian Dorong UMKM dan Edukasi Emas di Makassar
Transisi Manufaktur & Tantangan Eksternal: Meski investasi mesin melambat akibat tekanan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur di bulan Juni (46,9), rebound PMI ke zona ekspansi di level 50,2 pada Juli 2026 memberi sinyal pemulihan industri.