RAKYATKU. COM, MAKASSAR – Menjadi penghafal Al-Qur'an bukanlah perjalanan yang mudah. Dibutuhkan ketekunan, kedisiplinan, serta dukungan penuh dari keluarga agar anak mampu melewati setiap proses dengan penuh semangat. Bagi Andi Tenri Soraya, keberhasilan seorang anak dalam menghafal Al-Qur'an merupakan hasil kolaborasi antara keluarga dan sekolah yang saling menguatkan.
Prinsip itulah yang ia terapkan saat mendampingi putranya, Andi Muhammad Farid Hidayat, selama menempuh pendidikan di Ranu Harapan Islamic School (RHIS). Di tengah padatnya aktivitas belajar, ia berupaya menjaga keseimbangan antara disiplin menghafal Al-Qur'an dan waktu bermain agar anak tetap menikmati masa kecilnya.
Menurutnya, tekanan yang berlebihan justru dapat mengurangi semangat anak dalam belajar. Karena itu, ia memilih pendekatan yang lebih hangat dengan memberikan ruang bagi putranya untuk beristirahat dan menikmati waktu bersama keluarga sebelum kembali melanjutkan hafalan.
"Sebagai orang tua, kami selalu mengarahkan ananda agar tetap fokus mengaji dan menghafal Al-Qur'an. Namun, kami juga memberikan waktu untuk refreshing supaya tidak merasa tertekan. Dengan begitu, semangatnya tetap terjaga dan ia bisa kembali belajar dengan hati yang gembira," tutur Andi Tenri Soraya.
Ia menilai pendekatan tersebut berjalan selaras dengan sistem pendidikan yang diterapkan RHIS. Menurutnya, sekolah tidak hanya mengejar target hafalan, tetapi juga memperhatikan perkembangan karakter, psikologis, dan kenyamanan peserta didik dalam menjalani proses belajar.
Bagi Andi Tenri Soraya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan atau tingginya nilai akademik. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak tumbuh menjadi pribadi yang mencintai Al-Qur'an, memiliki akhlak mulia, dan mampu mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga : Di Balik Hafalan 29 Juz, Ada Doa Orang Tua dan Kesabaran Guru yang Tak Pernah Lelah
"Harapan kami sederhana. Semoga ananda tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah, berakhlak sesuai ajaran agama, berhasil dalam pendidikan umum, sekaligus memiliki bekal ilmu agama yang kuat. Keduanya harus berjalan beriringan," ungkapnya.
Menurutnya, keseimbangan antara pendidikan akademik dan pendidikan keislaman menjadi kebutuhan di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Anak-anak membutuhkan bekal ilmu pengetahuan sekaligus fondasi moral yang kuat agar mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Atas dasar itu, ia berharap Ranu Harapan Islamic School terus berkembang menjadi salah satu pelopor pendidikan Islam yang mampu melahirkan generasi Qurani berkualitas.
Baca Juga : Muhammad Ramli Rahim: Membangun Generasi Qurani adalah Investasi Peradaban
"Saya berharap RHIS terus melakukan inovasi dalam dunia pendidikan dan menjadi sekolah pelopor yang melahirkan ahli-ahli tahfiz yang unggul, berprestasi secara akademik, serta memiliki akhlak yang mulia. Semoga RHIS semakin maju dan memberi manfaat bagi semakin banyak keluarga," ujarnya.
Harapan Andi Tenri Soraya sejalan dengan semangat yang terus dibangun RHIS melalui berbagai program pembelajaran yang memadukan pendidikan akademik, tahfidz Al-Qur'an, dan pembentukan karakter.
Di balik prosesi Wisuda Tahfidz yang berlangsung khidmat, tersimpan kisah-kisah perjuangan keluarga yang percaya bahwa investasi terbaik bagi masa depan anak bukan hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga kecintaan terhadap Al-Qur'an dan nilai-nilai kehidupan yang diajarkannya.