Sabtu, 18 April 2026 15:06
Peluncuran Taro Waterpark di kawasan CitraLand Tallasa City, Kolaborasi antara FKS Food Sejahtera, FKS Land
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU. COM, MAKASSAR Ekspansi sektor rekreasi di Indonesia Timur kian menunjukkan arah baru. Bukan lagi sekadar proyek hiburan, tetapi bagian dari strategi integrasi bisnis lintas sektor. Peluncuran Taro Waterpark di kawasan CitraLand Tallasa City menjadi contoh bagaimana industri makanan cepat saji (FMCG) mulai masuk ke ekosistem properti dan leisure untuk memperluas nilai bisnis.

 

Kolaborasi antara FKS Food Sejahtera, FKS Land, dan pengembang kawasan menunjukkan pergeseran strategi: dari menjual produk ke membangun pengalaman. Langkah ini mencerminkan upaya perusahaan memperpanjang siklus interaksi konsumen tidak hanya saat membeli produk, tetapi juga saat beraktivitas bersama keluarga.

Secara bisnis, pendekatan ini membuka sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat brand engagement. Taro, yang selama ini dikenal sebagai produk makanan ringan, kini diuji sebagai intellectual property (IP) yang bisa di-monetisasi melalui destinasi fisik. Model ini lazim di pasar global, namun masih relatif baru di Indonesia, khususnya di luar Pulau Jawa.

Baca Juga : Hotel Aswin Makassar Perkuat Layanan Wellness, Nirmala Hadirkan Jacuzzi hingga Lounge Karaoke dalam Satu Atap

Dari sisi properti, kehadiran waterpark di kawasan terpadu seperti Tallasa City bukan sekadar pelengkap fasilitas, melainkan instrumen untuk meningkatkan nilai kawasan (value creation). Fasilitas rekreasi dinilai mampu mendorong traffic, mempercepat penjualan unit, serta meningkatkan daya tarik investasi di kawasan tersebut.

 

Tallasa City sendiri dikembangkan sebagai kota mandiri seluas 700 hektare, dengan positioning sebagai pusat pertumbuhan baru di Indonesia Timur. Integrasi hunian, pendidikan, komersial, hingga leisure menjadi strategi untuk menciptakan ekosistem yang tidak bergantung pada pusat kota lama.

Masuknya elemen rekreasi keluarga juga menjawab perubahan demografi urban. Kelas menengah di kota seperti Makassar menunjukkan peningkatan kebutuhan terhadap ruang hiburan yang terjangkau namun berkualitas. Dengan harga tiket uji coba Rp25 ribu, Taro Waterpark tampak menyasar segmen mass market, bukan premium indikasi bahwa volume pengunjung menjadi kunci model bisnisnya.

Baca Juga : Kalla Imbau Hentikan Aksi Dukungan ke Jusuf Kalla, Minta Masyarakat Jaga Kondusivitas

Namun demikian, tantangan tetap ada. Bisnis waterpark dikenal memiliki biaya operasional tinggi, mulai dari perawatan fasilitas hingga manajemen keselamatan. Tanpa strategi traffic yang konsisten, proyek seperti ini berisiko menjadi beban jangka panjang.

Di sinilah kekuatan kolaborasi diuji. FKS Food memiliki keunggulan dalam brand awareness dan distribusi, sementara FKS Land menguasai pengembangan kawasan. Jika sinergi berjalan efektif, Taro Waterpark berpotensi menjadi blueprint baru integrasi FMCG–properti di Indonesia Timur.

Lebih jauh, langkah ini juga menegaskan bahwa Makassar bukan lagi sekadar pasar sekunder, tetapi mulai diposisikan sebagai hub pertumbuhan baru. Investasi di sektor gaya hidup dan rekreasi menjadi indikator meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap daya beli dan potensi ekonomi kawasan tersebut.

Baca Juga : Dosen Kalla Institute Tembus Hibah Nasional 2026, Perkuat Riset Terapan dan Dampak ke Masyarakat

Dengan demikian, Taro Waterpark bukan hanya destinasi wisata baru, tetapi juga eksperimen bisnis yang bisa menentukan arah ekspansi industri leisure di luar Jawa dalam beberapa tahun ke depan.