Kamis, 02 April 2026 22:04
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, JAKARTA –Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya dalam mempercepat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui sinergi lintas pemangku kepentingan dalam program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026.

 

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa sektor keuangan syariah memiliki potensi strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan, ditopang oleh kekuatan demografi Indonesia.

“Dengan populasi muslim mencapai 244,7 juta jiwa, potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia sangat besar dan menjadi fondasi kuat bagi perekonomian nasional,” ujarnya dalam penutupan GERAK Syariah 2026 di Jakarta.

Baca Juga : Trafik Data Naik 21% Saat Lebaran, XLSMART Ungkap Lonjakan Ekstrem di Jalur Mudik dan Wisata

Lonjakan Capaian: Literasi hingga Transaksi

 

Sepanjang pelaksanaan GERAK Syariah 2026, OJK mencatat capaian signifikan:

1.283 kegiatan literasi

Baca Juga : OJK, BEI, dan KSEI Tuntaskan Reformasi Transparansi Pasar Modal, Bidik Kepercayaan Investor Global

459 kegiatan inklusi keuangan

890 kegiatan sosial

8,35 juta peserta edukasi (naik 31% dari tahun sebelumnya)

Baca Juga : Krisis Energi Tekan Asia, PIKI Sulsel Nilai Arah Kebijakan Prabowo Jadi Penopang Ketahanan Indonesia

Dari sisi kinerja:

Penghimpunan dana: Rp 6,83 triliun

Penyaluran dana: Rp 6,86 triliun

Baca Juga : Danamon Tebar Dividen Rp1,4 Triliun, Rombak Pucuk Pimpinan dalam RUPST 2026

Sementara itu, penyaluran dana sosial mencapai:

Rp 86,2 miliar

Menjangkau 266.421 penerima manfaat

Baca Juga : OJK Hormati Putusan KPPU soal Kartel Bunga Fintech, Perketat Pengawasan Pinjaman Online

Capaian ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatat Rp30,75 miliar dengan 158.203 penerima manfaat.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan tersebut.

“Dengan sinergi yang masif dan terarah, literasi dan inklusi keuangan syariah dapat menjangkau lebih luas serta mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.

Masih Tertinggal dari Malaysia

Meski menunjukkan tren positif, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa tingkat adopsi keuangan syariah di Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain.

Dari total sekitar 244 juta penduduk muslim, perilaku ekonomi syariah baru mencapai 7,6 persen, jauh di bawah Malaysia yang telah mencapai 67 persen.

“Peningkatannya sudah terlihat, tetapi seharusnya bisa jauh lebih tinggi. Ini menjadi pekerjaan besar kita bersama,” ujarnya.

Dorong UMKM dan Ekonomi Riil

Menteri Koperasi sekaligus Ketua Harian MES, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa keuangan syariah harus terhubung langsung dengan sektor riil.

“Keuangan syariah akan tumbuh kuat jika berjalan seiring dengan UMKM, industri halal, dan sektor produktif lainnya,” katanya.

OJK pun mendorong penguatan pembiayaan syariah yang lebih inklusif bagi UMKM sebagai bagian dari strategi mendukung program prioritas pemerintah dan Asta Cita.

Luncurkan Buku Edukasi Keuangan Berbasis Agama

Dalam momentum tersebut, OJK bersama Kementerian Agama juga meluncurkan Buku Edukasi Keuangan Berbasis Agama (ESA) 2026, sebagai panduan praktis pengelolaan keuangan dengan pendekatan nilai-nilai religius.

Buku ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat lintas latar belakang, sekaligus mendorong perilaku keuangan yang sehat dan berkelanjutan.

Arah Strategis: Inklusif dan Berkelanjutan

OJK menegaskan bahwa penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah akan terus dilakukan melalui kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai pihak.

Dengan capaian GERAK Syariah 2026, OJK optimistis sektor keuangan syariah akan semakin berperan sebagai pilar penting dalam mendorong pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

BERITA TERKAIT