RAKYATKU.COM, JAKARTA –Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya dalam mempercepat literasi dan inklusi keuangan syariah melalui sinergi lintas pemangku kepentingan dalam program Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa sektor keuangan syariah memiliki potensi strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan, ditopang oleh kekuatan demografi Indonesia.
“Dengan populasi muslim mencapai 244,7 juta jiwa, potensi pengembangan keuangan syariah di Indonesia sangat besar dan menjadi fondasi kuat bagi perekonomian nasional,” ujarnya dalam penutupan GERAK Syariah 2026 di Jakarta.
Baca Juga : Pemerintah Tetapkan Iduladha 1447 H Jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026
Lonjakan Capaian: Literasi hingga Transaksi
Sepanjang pelaksanaan GERAK Syariah 2026, OJK mencatat capaian signifikan:
1.283 kegiatan literasi
Baca Juga : OJK: Perbankan Syariah Nasional Melaju Kuat, Aset Tembus Rp1.061 Triliun
459 kegiatan inklusi keuangan
890 kegiatan sosial
8,35 juta peserta edukasi (naik 31% dari tahun sebelumnya)
Baca Juga : OJK Dorong Kepastian Hukum Penanganan Kredit Macet, Tegaskan Pentingnya Business Judgement Rule di Perbankan
Dari sisi kinerja:
Penghimpunan dana: Rp 6,83 triliun
Penyaluran dana: Rp 6,86 triliun
Baca Juga : OJK Jadikan Rebalancing MSCI Momentum Perkuat Reformasi dan Integritas Pasar Modal Indonesia
Sementara itu, penyaluran dana sosial mencapai:
Rp 86,2 miliar
Menjangkau 266.421 penerima manfaat
Baca Juga : OJK Dorong Generasi Muda Melek Risiko Kripto di Tengah Lonjakan Investasi Aset Digital
Capaian ini meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencatat Rp30,75 miliar dengan 158.203 penerima manfaat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan tersebut.
“Dengan sinergi yang masif dan terarah, literasi dan inklusi keuangan syariah dapat menjangkau lebih luas serta mendorong ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Masih Tertinggal dari Malaysia
Meski menunjukkan tren positif, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa tingkat adopsi keuangan syariah di Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain.
Dari total sekitar 244 juta penduduk muslim, perilaku ekonomi syariah baru mencapai 7,6 persen, jauh di bawah Malaysia yang telah mencapai 67 persen.
“Peningkatannya sudah terlihat, tetapi seharusnya bisa jauh lebih tinggi. Ini menjadi pekerjaan besar kita bersama,” ujarnya.
Dorong UMKM dan Ekonomi Riil
Menteri Koperasi sekaligus Ketua Harian MES, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa keuangan syariah harus terhubung langsung dengan sektor riil.
“Keuangan syariah akan tumbuh kuat jika berjalan seiring dengan UMKM, industri halal, dan sektor produktif lainnya,” katanya.
OJK pun mendorong penguatan pembiayaan syariah yang lebih inklusif bagi UMKM sebagai bagian dari strategi mendukung program prioritas pemerintah dan Asta Cita.
Luncurkan Buku Edukasi Keuangan Berbasis Agama
Dalam momentum tersebut, OJK bersama Kementerian Agama juga meluncurkan Buku Edukasi Keuangan Berbasis Agama (ESA) 2026, sebagai panduan praktis pengelolaan keuangan dengan pendekatan nilai-nilai religius.
Buku ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat lintas latar belakang, sekaligus mendorong perilaku keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Arah Strategis: Inklusif dan Berkelanjutan
OJK menegaskan bahwa penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah akan terus dilakukan melalui kolaborasi berkelanjutan dengan berbagai pihak.
Dengan capaian GERAK Syariah 2026, OJK optimistis sektor keuangan syariah akan semakin berperan sebagai pilar penting dalam mendorong pemerataan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
TAG
- #OJK
- #keuangan syariah
- #GERAK Syariah
- #ekonomi
- #umkm
- #literasi keuangan
- #inklusi
- #Indonesia
- #MES
- #kementerian agama