RAKYATKU.COM, JENEPONTO — Lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di Kabupaten Jeneponto dalam beberapa hari terakhir mulai menekan ketersediaan di lapangan. Kondisi ini bahkan memicu kenaikan harga eceran di tingkat masyarakat, di luar harga resmi yang ditetapkan pemerintah.
Situasi tersebut terjadi seiring meningkatnya mobilitas warga menjelang dan selama momentum Idulfitri, yang berdampak langsung pada percepatan penyaluran BBM di sejumlah SPBU.
Permintaan melonjak, stok tertekan
Baca Juga : Viral Dugaan Solar Subsidi di Luwu Timur, Pertamina Temukan Kejanggalan dan Lanjutkan Investigasi
Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi mengakui adanya lonjakan signifikan konsumsi Pertalite di wilayah tersebut.
Sales Branch Manager Sulselbar II Fuel, Muhammad Ridho Hasbullah, mengatakan peningkatan permintaan terjadi dalam waktu singkat dan melampaui pola normal.
“Terjadi peningkatan demand dalam beberapa hari terakhir seiring momentum Idulfitri. Saat ini kami terus melakukan percepatan recovery stok di seluruh lembaga penyalur,” ujarnya.
Baca Juga : Pertamina Salurkan Ratusan Paket Sembako Jelang May Day, Perkuat Kolaborasi Sosial di Sulsel
Lonjakan ini menyebabkan distribusi BBM di SPBU berlangsung lebih cepat dari biasanya, bahkan di beberapa titik dilaporkan terjadi antrean.
Harga eceran naik di luar SPBU
Di tengah tekanan pasokan, muncul fenomena kenaikan harga di tingkat pengecer non-resmi.
Baca Juga : Pertamina Pastikan Penerbangan Haji Aman, Suplai Avtur Diawasi Ketat
Pertamina menegaskan bahwa harga resmi hanya berlaku di SPBU, sementara harga di luar jalur distribusi resmi berada di luar pengawasan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menekankan pentingnya pembelian di jalur resmi.
“Masyarakat diharapkan membeli di SPBU resmi agar mendapatkan harga sesuai ketentuan dan kualitas yang terjamin,” katanya.
Baca Juga : Pegadaian Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid di Jeneponto, Perkuat Peran Sosial di Daerah
Antara lonjakan musiman dan potensi panic buying
Fenomena ini dinilai tidak lepas dari dua faktor utama:
lonjakan mobilitas saat Lebaran
Baca Juga : Pertamina Perkuat Pengawasan LPG di Kendari, Tambahan Pasokan Ribuan Ton Masuk
potensi panic buying di masyarakat
Pertamina mengingatkan bahwa pembelian berlebihan justru dapat memperparah tekanan distribusi.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan membeli sesuai kebutuhan,” kata Ridho.
Distribusi diperkuat, pengawasan diperketat
Sebagai respons, Pertamina mempercepat distribusi dan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak untuk menjaga pasokan tetap stabil
Langkah yang dilakukan antara lain:
percepatan suplai ke SPBU
monitoring distribusi harian
penguatan pengawasan penyaluran
Langkah ini diharapkan mampu menormalkan kembali kondisi pasokan dalam waktu dekat.
Ujian distribusi energi saat momen puncak
Kasus di Jeneponto mencerminkan tantangan klasik distribusi energi di daerah saat momen puncak konsumsi.
Lonjakan permintaan yang terjadi dalam waktu singkat kerap:
melampaui kapasitas distribusi harian
memicu disparitas harga di lapangan
membuka celah spekulasi di tingkat pengecer
Kondisi di Jeneponto menunjukkan bahwa stabilitas pasokan BBM tidak hanya bergantung pada ketersediaan stok, tetapi juga pada perilaku konsumsi masyarakat dan efektivitas distribusi.
Dengan langkah percepatan yang dilakukan, Pertamina optimistis pasokan akan kembali stabil. Namun, peran masyarakat tetap menjadi kunci untuk mencegah tekanan berulang di masa mendatang.