RAKYATKU.COM, MOROWALI — Di tengah geliat kawasan industri yang terus berkembang pesat, pembangunan rumah ibadah mulai mengambil peran yang lebih dari sekadar fasilitas spiritual. Di Kabupaten Morowali, langkah ini terlihat jelas melalui pembangunan tiga masjid di wilayah lingkar industri dengan total investasi mencapai Rp11 miliar.
Peresmian masjid tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Morowali, Iksan Baharuddin Abdul Rauf, sebagai simbol kolaborasi antara industri, pemerintah, dan masyarakat.
Tiga masjid yang diresmikan masing-masing berada di Desa Tondo, Ambunu, dan Topogaro, yaitu:
Baca Juga : Sambut Ramadan, Phinisi Hospitality Indonesia Group Gelar Aksi Bersih Masjid di Somba Opu
Masjid Nurul Hasanah
Masjid Nurul Falah
Masjid Raudhatul Jannah
Baca Juga : Huabao Indonesia Lanjutkan Program Cleanup Action 2025, Perkuat Kampanye Hidup Bersih di Desa Ambunu
Ketiganya dibangun oleh Huabao Indonesia sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Namun, di tengah tren global, langkah ini tidak lagi bisa dibaca sekadar sebagai CSR konvensional. Pembangunan fasilitas ibadah di kawasan industri kini mulai dilihat sebagai bagian dari strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) kerangka yang menilai keberlanjutan sebuah perusahaan dari sisi sosial dan lingkungan.
Industri dan ruang spiritual: dua dunia yang bertemu
Baca Juga : Huabao Indonesia Raih Dua Penghargaan CSR Nasional, Dorong Morowali Jadi Pusat Pertumbuhan Baru
Vice Director Huabao Indonesia, Gao Chunhua, menegaskan bahwa kehadiran perusahaan tidak hanya berorientasi pada ekonomi.
“Keberadaan perusahaan harus berjalan seiring dengan pembangunan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan adanya pergeseran paradigma industri: dari sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi menuju pembangunan yang lebih inklusif.
Baca Juga : GMTD Wujudkan Pilar “Sejahtera” Lewat Aksi Sosial Lippo untuk Indonesia di Tanjung Bunga Makassar
Di kawasan seperti Morowali, di mana industrialisasi berlangsung cepat, kebutuhan akan ruang spiritual menjadi semakin relevan.
Secara konseptual, ESG mendorong perusahaan untuk membangun hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar. Pembangunan masjid dalam konteks ini bisa dilihat sebagai upaya memperkuat legitimasi sosial industri di tengah masyarakat lokal.
Namun, pertanyaannya: apakah ini benar-benar transformasi menuju keberlanjutan, atau sekadar pendekatan untuk menjaga stabilitas sosial?
Bupati Morowali, Iksan Baharuddin Abdul Rauf, melihatnya sebagai langkah positif yang memberi manfaat nyata.
“Investasi ini menjadi bukti bahwa industri tidak lepas dari tanggung jawab sosial,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan industri harus berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat.
Bagi warga, kehadiran masjid baru ini membawa dampak langsung, terutama dalam mendukung aktivitas ibadah yang lebih layak dan nyaman.
Kepala Desa Tondo, Iwan Bawi, menyampaikan apresiasi atas pembangunan tersebut.
“Kami berterima kasih atas fasilitas yang diberikan. Ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai ruang sosial yang memperkuat interaksi dan kohesi masyarakat di tengah perubahan lingkungan akibat industrialisasi.
Pembangunan tiga masjid ini memperlihatkan bagaimana industri mencoba menjembatani kepentingan ekonomi dan sosial.
Dengan nilai investasi yang tidak kecil, langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan kawasan industri tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik dan produksi, tetapi juga dari kualitas kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Peresmian Masjid Nurul Hasanah di Desa Tondo menjadi simbol bahwa pembangunan di Morowali mulai bergerak ke arah yang lebih holistik.
Tidak hanya membangun pabrik dan kawasan industri, tetapi juga memperhatikan aspek spiritual dan sosial masyarakat. Langkah ini tentu membuka harapan baru bagi masyarakat.