Kamis, 09 Desember 2021 23:56

Ahli Dibuat Bingung Kasus COVID-19 di Jepang Turun secara Tiba-Tiba

Nur Hidayat Said
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Sebuah hipotesis baru untuk menjelaskan divergensi adalah jenis virus corona yang dominan di Jepang berevolusi sedemikian rupa sehingga memperpendek kemampuannya untuk bereplikasi.

RAKYATKU.COM - Kasus COVID-19 di Jepang tiba-tiba turun drastis saat kasus di negara Asia lainnya justru meningkat. Hal ini membuat para ahli bingung.

Infeksi harian baru melambat menjadi kurang dari 1 per 1.000.000 orang. Jumlah ini paling sedikit di antara negara-negara besar di Asia, di luar Tiongkok. Selain itu tingkat kematian turun menjadi nol dalam beberapa hari terakhir.

Korea Selatan, dengan tingkat vaksinasi serupa, mencatat rekor infeksi tertinggi hingga menembus 7.000 kasus per hari. Di Singapura dan Australia, tingkat kasus terus meningkat ketika pihak berwenang melonggarkan pembatasan.

Baca Juga : Achmad Yurianto Mantan Jubir Satgas Penanganan COVID-19 Meninggal Dunia

Sebuah hipotesis baru untuk menjelaskan divergensi adalah jenis virus corona yang dominan di Jepang berevolusi sedemikian rupa sehingga memperpendek kemampuannya untuk bereplikasi.

Ituro Inoue, seorang profesor di Institut Genetika Nasional Jepang, mengatakan bahwa subvarian Delta, yang dikenal sebagai AY.29, kemungkinan memberikan kekebalan kepada penduduk Jepang.

"Saya pikir AY.29 melindungi kita dari strain lain," kata Inoue. Namun dia mengingatkan bahwa penelitiannya baru sebatas teori. "Saya tidak 100 persen percaya diri."

Baca Juga : Jokowi Izinkan Masyarakat Tak Pakai Masker di Ruang Terbuka

Paul Griffin, seorang profesor di University of Queensland, mengatakan kasus di setiap negara berbeda-beda tergantung cuaca, kepadatan penduduk, dan berbagai strategi untuk memerangi pandemi.

Sponsored by MGID

"Kita memang perlu mencoba dan mengambil pelajaran dari negara lain, tetapi tidak boleh mengasumsikan pengalaman yang sama dari satu negara ke negara lain, karena ada semua variabel itu," kata Griffin.

Griffin melanjutkan, beberapa negara menggunakan strategi selain vaksinasi untuk mengendalikan penyebaran. "Apakah itu langkah-langkah sederhana tentang kebersihan tangan, jarak sosial dan penggunaan masker dan apakah itu wajib atau sukarela," katanya.

Baca Juga : Genjot Regenerasi Petani, Kementan Lepas Puluhan Petani Muda Magang ke Jepang

Jepang tidak pernah melakukan penguncian seperti yang dilakukan banyak negara. “Mengenakan masker dan ritual kebersihan diri masih sama dan penting,” kata Kazuaki Jindai, peneliti di Universitas Tohoku. "Vaksin adalah aspek penting pencegahan tetapi bukan peluru perak."

Kecepatan penurunan kasus COVID-19 di Jepang diprediksi adalah masalah waktu. Lambatnya vaksinasi di Jepang justru memberi efek suntikan yang masih kuat. Pendapat lainnya adalah virus cenderung memuncak dan turun dalam interval dua bulan.

Sumber: Reuters

#Jepang #Covid-19