Selasa, 21 September 2021 20:42
Suasana dalam KM Umsini. (Foto: Humas Pemkot)
Editor : Alief Sappewali

KALAU ada penghargaan Covid-19, maka Makassar dan Sulawesi Selatan yang harus mendapatkannya pertama kali. Beberapa terobosan jadi percontohan nasional.

 

Dulu ada wisata Covid-19. Pasien berstatus orang tanpa gejala (OTG) dan orang dalam pemantauan (ODP) dikarantina di hotel berbintang. Semua fasilitas disiapkan. Pemerintah Provinsi Sulsel yang bayar.

Setelah program itu selesai, Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto memprogramkan isolasi apung. Menggandeng kapal PT Pelni, KM Umsini yang sedang sepi penumpang selama pandemi.

Baca Juga : Isolasi Apung KM Umsini Resmi Ditutup, 275 Pasien Covid-19 yang Dirawat Semuanya Sembuh

Lagi-lagi program ini jadi perhatian. Sampai-sampai Presiden Joko Widodo melalui Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meminta daerah lain meniru Makassar.

 

Isolasi apung diperuntukkan untuk pasien yang OTG dan mengalami gejala ringan. Menurut Danny --sapaan Mohammad Ramdhan Pomanto--, orang-orang yang terpapar dan menjalani isolasi harus diamati dengan baik. Sebab, mereka berpotensi menyebarkan penyakit atau menjadi transmisi Covid-19.

"Apalagi yang OTG dan ringan karena dia masih bisa jalan-jalan di warung kopi, ke pasar, ngobrol di mana-mana, padahal dia lagi OTG," kata Danny beberapa waktu.

Baca Juga : Isolasi Apung Akan Berakhir, Wali Kota Makassar: Ini Program yang Sangat Berhasil

Selain membutuhkan tempat yang luas, Danny juga mendapat saran untuk melakukan isolasi di sepanjang pantai karena di pantai ada udara laut yang disebut bisa menyembuhkan.

"Isolasi disarankan di sepanjang pantai karena di pantai itu ada udara laut yang bisa menyembuhkan. Akhirnya kalau kita pikir tidak ada hotel kapasitas 1.000, maka terpikirlah kapal itu," tutur Danny.

KM Umsini bisa menampung 804 pasien Covid-19. Namun, pada tahap pertama hanya 500 pasien yang akan diterima.

Baca Juga : KM Umsini Ternyata Tidak Gratis, Dirut PT Pelni Temui Wali Kota Makassar di Rumah Pribadi

Isolasi apung menyiapkan fasilitas untuk memberikan rasa nyaman kepada para pasien.

"Tidak ada isolasi paling asyik di atas kapal, boleh mancing kemudian ada tempat senam, tempat berjemur. Yang menarik ada program-program setiap hari lewat HP-nya, yaitu motivasi-motivasi para motivator ulung di Makassar. Kemudian malamnya ada kuis kalau dia menang dia dapat sembako yang terima keluarganya di darat," tutur Danny.

Pasien diarahkan ke isolasi apung melalui pemerintah setempat. Seperti dilakukan pelaksana tugas Lurah Tamalanrea Indah, Ruhani. Dia mengantar langsung warganya yang terpapar Covid-19 ke KM Umsini.

Baca Juga : Kenyamanan Pasien Covid di Atas Isolasi Apung KM Umsini jadi Perhatian Nasional dan Internasional

“Beginilah bentuk perhatian pemerintah kepada kesehatan masyarakatnya. Hari ini saya ikut mendampingi warga yang terpapar Covid-19 untuk segera ditangani di isolasi apung. Insya Allah semoga semuanya lekas sembuh," kata Ruhani saat itu.

Camat Tamalanrea, Muhammad Rheza menyampaikan bahwa penanganan Covid di wilayahnya akan terus dievaluasi. Semua lurah diharapkan konsisten dalam mendeteksi kesehatan warga dengan membangun komunikasi dengan pihak muskesmas.

“Jadi semua harus berjalan, tidak boleh ada yang berhenti, semua terkorelasi. Ada yang menangani kesehatan warga adapula yang mengurusi penyaluran bansos Covid APBD," kata Rezha.

Baca Juga : Danny Paparkan Strategi Penanganan Covid 19 di Makassar pada Dirjen Hubungan Laut RI

Salah satu alumni KM Umsini, Putri mengucapkan terima kasih di hadapan wali kota Makassar atas fasilitas luar biasa selama ia menjalani isolasi di atas kapal tersebut.

“Terima kasih banyak Pak Wali. Saya dan teman-teman saya yang pernah isolasi di kapal ini sangat senang. Fasilitasnya luar biasa. Vitaminnya, makanannya, sehingga saya cuman enam hari sudah sembuh,” ungkapnya.


"Nyaman dirawat di sini (isolasi apung). Enak makananya sama cemilannya. Mau mandi ada air hangat dan air dingin. Kita juga disiapkan masker yang banyak serta tempatnya sejuk karena ber-AC," aku Ahmad, pasien lainnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa pelayanan petugas kesehatan dan dokter di kapal isolasi apung tersebut sangat terjamin.

"Dokternya 24 jam. Setiap ada keluhan langsung ditanggapi dengan cepat," jelasnya.


Jadi Perhatian Media Internasional

Program isolasi apung KM Umsini yang dilaksanakan Pemerintah Kota Makassar dan PT Pelni ikut dipublikasikan di media-media nasional ataupun media internasional.

Contohnya, seperti yang ditulis Reuters dengan judul "Indonesian Ferry Turns Floating Isolation Centrer for COVID-19 Patients". Menyusul sejumlah media asing seperti media Singapura The Straits Times, media Malaysia malaysia.syafaqna.com yang mengutip Reuters.

Setelah heboh di Makassar, beberapa kota lainnya di Indonesia menyusul. Mereka meneken MoU dengan Pelni untuk menghadirikan isolasi apung di masing- masing daerahnya. Di antaranya, Kota Medan, Solo, Minahasa Utara, dan Papua. MuU ini disaksikan langsung Menteri Perhubungan RI, Ir Budi Karya Sumadi secara virtual.

Isolasi di Kapal Lebih Hemat

Danny Pomanto bilang, isolasi di kapal jauh lebih murah biayanya dibandingkan hotel.

"Data saya dapatkan itu ada 2.000 yang isolasi mandiri. Kalau di hotel kita bisa pakai 10 hotel, jadinya ribet. Nah ide ini muncul agar para pasien yang diisolasi bisa terpusat dan bisa dipantau lebih dekat oleh para nakes dan dokter. Anggarannya pun lebih murah di kapal," jelasnya.

Isolasi di kapal bukannya tanpa masalah. Salah satunya terkait menyamanan pasien. Beberapa di antaranya mengeluhkan serangga atau kecoak.

Mendengar itu, Danny langsung menginstruksikan untuk mengirimkan petugas kebersihan serta tambahan alat pelindung diri (APD).

Ada sekitar 10 orang cleaning service disiagakan yang dibagi menjadi tiga sif per regu.

Keluhan lainnya dari pasien adalah wi-fi di atas kapal kurang lancar sehingga menyulitkan mengikuti salah satu program di atas kapal tersebut.

"Program sudah jalan cuma memang wi-fi lemah. Saya sudah ambil keputusan, kasih kuota saja supaya progam bisa jalan," ucap Danny.

"Kuotanya 50 ribu, lumayanlah. Tiap pasien ini karena pasien wajib ikut program terus program ini, kan, lima hari belum utuh-utuh, kan, karena wi-fi lemah," sambungnya.

"Alhamdulillah mereka enjoy dan mereka (pasien) bilang kalau makanan enak cuman memang airnya air asin bukan air toilet," tutur Danny.

BERITA TERKAIT