Jumat, 27 Agustus 2021 10:10
Ilustrasi.
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM - Studi para peneliti di Korea Selatan menemukan orang yang terinfeksi COVID-19 varian Delta" href="https://rakyatku.com/tag/varian-delta">varian Delta punya viral load 300 kali lebih tinggi daripada varian asli SARS-CoV-19.

 

Jumlah viral load itu diamati ketika gejala pertama kali muncul. Namun demikian, jumlah viral load akan menurun secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Menjadi 30 kali dalam empat hari dan lebih dari 10 kali saat memasuki hari ke-9. Saat memasuki hari ke-10, tingkat viral load akan menyamai dengan varian lain, papar Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea Selatan (KDCA).

Baca Juga : WHO: Invasi Rusia ke Ukraina Bisa Munculkan Virus Corona Varian Baru

Viral load adalah jumlah atau tingkat replikasi virus dalam tubuh yang bisa diukur lewat sampel darah atau swab hidung dan tenggorokan. Makin tinggi viral load di dalam tubuh, makin mudah orang menyebarkan virus, dan makin berat pula infeksi dan gejala yang pasien alami sehingga berpotensi menjalani rawat inap.

 

“Tapi tidak berarti varian Delta 300 kali lebih menular. Kami pikir tingkat penularannya 1,6 kali lipat lebih tinggi dari varian Alpha, dan sekitar 2 kali lipat lebih tinggi dari varian aslinya,” kata Lee Sang-won, seorang pejabat Kementerian Kesehatan Korea Selatan sebagaimana dikutip Reuters, Jumat (27/8/2021).

Varian Delta pertama kali diidentifikasi di India, sedangkan varian Alpha di Inggris. Untuk menghentikan penyebaran Delta yang sekarang menjadi strain dominan di seluruh Dunia, KDCA mengimbau agar orang-orang segera melakukan tes swab PCR ketika mengalami gejala COVID-19 untuk kemudian dilakukan tracing supaya penyebaran bisa segera dihentikan.

Baca Juga : WHO Sebut Virus Corona Akan Jadi Bagian Ekosistem

Adapun jumlah viral load Delta didapat dari hasil penelitian ilmuwan yang membandingkan viral load dari 1.848 pasien yang terinfeksi varian Delta dengan 22.106 pasien yang terinfeksi varian lain.