Sabtu, 03 Juli 2021 10:02
Foto: Anadolu Agency.
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM - Seorang perempuan Suriah" href="https://rakyatku.com/tag/suriah">Suriah yang dipenjara oleh rezim Assad lima tahun lalu tidak bisa melupakan penderitaan tak tertahankan yang dialaminya di kamp-kamp interogasi.

 

Pada 2016, Abir Umm Hassan--yang saat itu hamil--ditahan bersama anaknya yang berusia dua setengah tahun dalam perjalanan ke rumah sakit di ibu kota Damaskus.

“Saya diinterogasi lima kali. Mereka menyiksa saya meski mereka tahu saya sedang hamil,” kata Umm Hassan.

Baca Juga : Shin Tae-yong Minta Pemain Lebih Berani dan Percaya Diri saat Hadapi Suriah

"Saya terus-menerus dipukuli. Penahanan seorang wanita hamil yang tidak bersalah adalah kejahatan perang terbesar," tambah dia, yang kini berusia 39 tahun.

 

Umm Hassan hanyalah satu dari ribuan korban tak berdosa yang ditahan dan disiksa di penjara rezim Assad.

Ibu muda itu, yang ditahan di penjara di Damaskus selama empat bulan, baru dibebaskan setelah membayar suap, dan kemudian pindah bersama keluarganya ke Idlib, daerah yang dikuasai oposisi di barat laut Suriah, dekat Turki.

Baca Juga : Kebakaran Meletus di Pangkalan Militer AS di Suriah Setelah Serangan Rudal Israel

Hanya sepekan setelah pembebasannya, dia melahirkan putranya yang diberi nama Ammar.

Setelah dibebaskan, Umm Hassan juga dipertemukan kembali dengan anaknya yang masih kecil, yang sebelumnya telah diserahkan kepada keluarganya.

Perempuan dan anak-anak adalah korban terbesar perang saudara di Suriah.

Baca Juga : Korban Tewas Gempa Turki-Suriah Capai 28.000 Orang

Menurut Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah, setidaknya 1,2 juta orang telah ditahan dan disiksa oleh pasukan rezim selama perang saudara selama satu dekade. Setidaknya 132.000 tahanan belum terdengar kabarnya.

Suriah mengalami perang saudara sejak awal 2011, ketika rezim menindak protes pro-demokrasi dengan kebrutalan yang tak terduga. Sekitar setengah juta orang telah terbunuh dan lebih dari 12 juta orang harus meninggalkan rumah mereka selama dekade terakhir, menjadi pengungsi atau terlantar secara internal.

Sumber: Anadolu Agency