Sabtu, 15 Mei 2021 21:41
Editor : Alief Sappewali

RAKYATKU.COM - Kiai Sanusi Baco seorang mujahid. Dia bahkan pernah diam-diam mendaftar sebagai tentara sukarela untuk melawan Israel.

 

Itu terjadi tahun 1967. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Al-Azhar Mesir, Sanusi Baco berniat melanjutkan ke S2.

Saat itu, pendidikannya dibiayai sepenuhnya pemerintah Indonesia, melalui Departemen Agama.

Baca Juga : Kakanwil Kemenag Sulsel Usulkan Almarhum AGH Sanusi Baco Sebagai Bapak Moderasi Beragama

Ternyata girahnya untuk membela Palestina begitu kuat. Diam-diam dia mendaftar sebagai tentara sukarela. Setelah pemerintah tahu, Sanusi Baco dipulangkan paksa ke Tanah Air.

 

Malam ini, AGH Sanusi Baco wafat saat tengah gencarnya serangan Israel ke Palestina. Sudah lebih 100 orang tewas. Pak Kiai tidak sempat terlibat langsung, tapi niatnya sudah tercatat di sisi Allah subhanahu wata'ala.

Ada lagi kisah AGH Sanusi Baco bersama Gus Dur. Mantan presiden RI yang bernama lengkap KH Abdurrahman Wahid. Ceritanya, Sanusi Baco dan Gus Dur seperjalanan menuju Mesir. Naik kapal laut.

Baca Juga : Gantikan AGH Sanusi Baco, Prof KH Najamuddin: Jangan Paksa Saya Kalau Melawan Aturan

Butuh waktu lebih dua bulan untuk sampai Mesir kala itu. Bisa dibayangkan betapa membosankannya. Beruntung dalam rombongan ada Gus Dur.

“Saya adalah teman seperjalanan Gus Dur ketika naik kapal menuju Kairo untuk kuliah di sana. Perjalanannya satu bulan dua hari. Membosankan sekali. Untung ada Gus Dur yang selalu bercerita menghibur,” kenang Sanusi Baco dalam sebuah kesempatan.

Sanusi Baco terkenang dengan Gus Dur yang tak pernah kehabisan cerita lucu. Setiap hari, Gus Dur menghibur mereka dalam perjalanan. Hebatnya, ceritanya selalu berbeda setiap hari.

Baca Juga : Takziah AGH Sanusi Baco di Masjid Raya, UIM Akan Hadirkan Ulama dan Tokoh Nasional

"Gus Dur itu moderat dan terbuka, suka membaca dan hampir waktunya dihabiskan untuk membaca," ujarn Sanusi Baco.

Sanusi Baco adalah putra kedua dari enam bersaudara dari seorang ayah bernama Baco. Ketika beranjak muda, namanya dinisbatkan kepada ayahnya menjadi Sanusi Baco.

Pada zaman Jepang, Sanusi kecil men-jadi perawat kuda tentara Jepang di Maros. Sementara ayahnya adalah seorang mandor.

Baca Juga : Fakta Baru Wafatnya AGH Sanusi Baco: Pak Kiai Sempat Bermimpi pada Jumat Malam

Setelah merasa cukup dengan belajar kepada beberapa guru ngaji di desanya, Gurutta Sanusi Baco kemudian mondok di Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Ambo Dalle selama delapan tahun. Setelah lulus aliyah pada tahun 1958, Sanusi Baco hijrah ke Makassar dan mengajar ngaji di beberapa tempat.

Setelah kembali ke Makassar usai menyelesaikan pendidikan S1 di Al-Azhar, Sanusi Baco mengajar di Universitas Muslim Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Al-Gazali (sekarang UIM), dan mulai berkeliling berdakwah dan mendirikan Sekolah Tinggi Al-Gazali Cabang STAI Al-Gazali di Makassar serta sebagai dosen tetap di Fakultas Syariah IAIN Alauddin Makassar.

Selain mengabdikan dirinya di Universitas Islam Makassar, Gurutta Sanusi masih aktif berdakwah dan memberikan nasihat kepada masyarakat Sulawesi Selatan dan pada tahun 2012 Gurutta Sanusi Baco dianugerahkan Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam atau fiqh di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Baca Juga : Kakanwil Kemenag Sulsel Cerita Pertemuan Terakhirnya dengan AGH Sanusi Baco

DATA DIRI

Nama : AGH Sanusi Baco Lc
Lahir : Maros 4 April 1937
Istri : Dra Hj Aminah Sanusi
Anak : 8 orang

Pendidikan:
S1 Universitas Al-Azhar Kairo –Mesir
BA Univesitas Muslim Indonesia
Ketua Umum MUI Sulsel
Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan
Ketua Yayasan Masjid Raya Makassar

BERITA TERKAIT