Senin, 01 Maret 2021 22:03
Pasar pengantin | dailymail.co.uk
Editor : Fathul Khair Akmal

RAKYATKU.COM - Tradisi di Bulgaria ini dinamakan Gypsy Bride Market, dimana para perempuan yang masih jomblo dan perawan, akan "ditawarkan" di pasar Stara Zagora untuk mendapatkan calon suami.

 

Yang mengikuti festival ini juga banyak banget. Sekitar 18 ribu orang yang terdiri dari perempuan, dan pria ikut dalam tradisi untuk saling mencari jodoh. Karena tujuannya ingin mencari calon pasangan, mereka akan memakai pakaian terbaik.

Yang wanita akan memakai gaun indah dan berdandan secantik mungkin, sementara kaum pria akan berkeliling dan memilih wanita yang dia sukai.

Baca Juga : Heboh, Pria Memakai Kaos Oblong Bersarung Biru Munculkan Uang dari Balik Bantal

Tradisi ini bisa dilakukan sampai 4 kali dalam setahun di Bulgaria. Gypsy Bride Market dilaksanakan pada hari libur keagamaan selama musim semi dan musim panas di daerah itu. Karena sering dilaksanakan, harapannya para jomblowan dan jomblowati di sana bisa segera menemukan jodohnya.

 

Acara ini dibuka dengan tarian khusus, dimana kaum wanita dan pria akan menari dalam dua kelompok berbeda. Udah kayak film India aja, sih memang. Dalam beberapa gerakan tarian, kedua kelompok ini lalu disatukan untuk berjabat tangan dan berkenalan.

Namun, tradisi ini masih menjadi polemik karena dianggap sebagai "perdagangan manusia".

Baca Juga : Wanita Ini Cek Rekening Bank Setelah 60 Tahun, Perubahan Saldonya Bikin Kaget

Namanya pasar, pasti ada transaksi jual beli. Begitu ada pria yang tertarik dengan salah seorang wanita, maka dia akan mendatangi orangtua wanita tersebut dan menanyakan "harganya". Jika cocok, maka mereka akan menikah. Jika tidak maka dia akan mencari wanita lain yang "harganya" sesuai dengan kantong.

Hal ini tidak mengherankan, mengingat awal mula tradisi ini diberlakukan untuk mengatasi kemerosotan ekonomi di Bulgaria. Harga yang ditawarkan oleh orangtua biasanya dimulai dari Rp 40 juta - Rp 80 juta dikutip dari keepo.me.

Mirip dengan pemberian mahar sih kalo di Indonesia. Tujuan pematokan harga ini adalah supaya keluarga perempuan mendapatkan keuntungan finansial setelah "menjual" anaknya.

Baca Juga : Viral Petani Ukraina "Curi" dan Tarik Tank Rusia Pakai Traktor

Soalnya, rata-rata yang mengikuti tradisi ini berasal dari kelompok miskin yang berprofesi sebagai perajin. Jadi, kegiatan ini bisa mendatangkan banyak keuntungan bagi mereka. Anaknya dapat jodoh, dan keluarga mendapat uang. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi ini tetap dipertahankan dan dipertontonkan sebagai warisan budaya Kalaidzhi, yaitu kelompok mayoritas kaum wanita tersebut berasal.

Kalau dulu orangtua yang langsung menentukan harga, maka kali ini perempuan yang diberikan kebebasan. Selain mematok tarif, perempuan yang akan "dibeli" juga punya hak kebebasan memilih calon suami yang dia sukai. Jadi, meskipun ditawar mahal, tapi kalau si wanitanya nggak suka, maka transaksi tidak akan terjadi.