Rabu, 13 Januari 2021 11:43
Mahathir Mohamad. (Foto: AFP)
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM - Eks Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, dilaporkan masuk dalam daftar 20 ekstremis paling berbahaya di dunia.

 

Kabar ini menjadi penghinaan bagi bangsa Malaysia, karena daftar ekstremis paling berbahaya biasanya dihuni para teroris.

Daftar inin dikeluarkan oleh Counter Extremism Project (CEP), organisasi nonprofit yang berbasis di New York, Amerika Serikat (AS).

Baca Juga : Malaysia Healthcare Expo Kembali Digelar di Makassar, Catat Tanggalnya Banyak Promo Menarik

Politisi senior yang akrab dipanggil Dr M itu berada di peringkat 14 dalam daftar ekstremis paling berbahaya, bersama dengan sosok yang dianggap teroris oleh dunia.

 

CEP dalam ulasannya menuturkan, Mahathir masuk dalam daftar karena dianggap sosok kontroversial.

"Mahathir kerap mengkritisi negara Barat, komunitas LGBT, dan masyarakat Yahudi," ulas CEP dikutip World of Buzz, Rabu (13/1/2021).

Baca Juga : Babak Pertama Kualifikasi Piala Asia U-17, Indonesia Tertinggal 5-0 atas Malaysia

Organisasi nonprofit itu menerangkan, pada 2019 Dr M sempat menyebut ekstremisme bakal menyebar ke Asia Tenggara.

Dia menyebut, skenario itu akan terjadi karena pemerintah gagal membendung gelombang milisi yang berbondong-bondong ke kawasan tersebut.

Mereka juga menyoroti pernyataan mantan PM berusia 95 tahun itu saat seorang guru di Perancis dipenggal pada Oktober 2020.

Baca Juga : Pemerintah Gratiskan Jalan Tol untuk Mudik Warganya ... di Malaysia

Guru yang bernama Samuel Paty itu dibunuh Abdoullakh Anzorov, karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya.

Saat itu, Mahathir Mohamad menyebut, "Muslim berhak marah dan membunuh jutaan orang Prancis untuk pembantaian di masa lalu".

Selain itu, Dr M juga mengritisi Israel, dugaan dia anti-Semit, dan mendukung pemerintahan mandiri di Mindano, Filipina.

Baca Juga : Warga Batal Puasa Berjemaah gara-gara Radio Siarkan Azan Magrib Empat Menit Lebih Cepat

CEP menjelaskan, memang mantan PM Malaysia periode 1981-2003 itu tak bertanggung jawab untuk kekerasan tertentu. Namun, opini kontroversialnya menyebabkan kecaman internasional karena diduga dia mendukung kekerasan ekstremis melawan Barat.

Organisasi yang berdiri sejak 2014 itu mendasarkan daftarnya dari berbagai spektrum ideologi dan kepercayaan.
Mereka membuat daftar ekstremis paling berbahaya mulai dari ISIS, Ikhwanul Muslimin, maupun kelompok Buddha antimuslim di Myanmar yang dianggap ancaman bagi keamanan dunia.

Daftar ekstremis paling berbahaya nomor satu adalah Sekretaris Jenderal Hezbollah Hassan Nasrallah, organisasi yang berbasis di Libanon.