Selasa, 01 Desember 2020 17:02
Foto: Getty Images.
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM - Pihak berwenang masih menyelidiki kematian Diego Maradona

 

El D10S melaporkan bahwa sang legenda sepak bola itu sempat terjatuh satu pekan sebelum meninggal dunia.

Maradona meninggal dunia pada Rabu (25/11/2020) di rumahnya di Buenos Aires. Meninggal pada usia 60 tahun akibat henti jantung.

Baca Juga : Leandro Paredes dan Cristian Romero Antar Argentina Menang 2-0 atas Indonesia

Maradona mengembuskan terakhir tidak lama usai menjalani operasi otak pada awal November lalu.

 

Melansir La Gazzetta dello Sport, ada dugaan kelalaian medis hingga membuat eks bintang Napoli dan Barcelona itu meninggal di masa pemulihan dirinya.

Pihak berwenang di Argentina saat ini tengah menyelidiki kronologi kematian Maradona.

Baca Juga : Jordi Amat dan Lionel Messi Siap Reuni di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta

Penyelidikan tidak hanya dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi di hari kematiannya, melainkan juga beberapa hari sebelumnya.

Menurut keterangan perawat Dahiana Gisela Madrid, petugas medis yang menangani rehabilitasi pasca operasi Maradona, pasiennya itu mengalami pukulan hebat di kepala setelah jatuh secara tidak sengaja satu pekan sebelum meninggal dunia.

Akan tetapi, tidak ada tindakan lanjutan yang diberikan usai kejadian tersebut.

Baca Juga : Senang Timnas Indonesia Bisa Lawan Argentina, Shin Tae-yong Puji Erick Thohir

Tidak hanya itu, Maradona sudah sejak awal diduga memiliki kelainan jantung usai menjalani operasi dan keluar dari rumah sakit.

Meski begitu, tidak ada tenaga medis khusus yang menangani penyakit itu selama dirinya menjalani rehabilitasi di rumah.

"Maradona jatuh sepekan sebelum kematiannya dan mengalami pukulan hebat di kepala, sayangnya mereka tidak berpikir untuk memberinya MRI atau tomografi. Tidak ada sama sekali," kata Rodolfo Baque, pengacara Dahiana Gisela Madrid, dilansir dari La Gazzetta dello Sport.

Baca Juga : Lawan Argentina, Erick Thohir: Pertandingan Bersejarah Bagi Indonesia

"Mereka hanya berpikir untuk mengobati kecanduan alkohol, tapi lupa jika mereka berurusan dengan pasien jantung yang membutuhkan bantuan dari tenaga medis khusus," tambah Baque.

"Dia sudah mencapai 115 denyut per menit, dan sehari sebelum wafat denyut jantungnya mencapai 109, dimana pasien dengan masalah koroner tak bisa melewati 80 denyut per menit."

"Tubuhnya sudah mengirim sinyal, namun dia tidak dibantu dengan pengobatan apa pun. Maradona bisa saja dirawat di klinik paling canggih di dunia, tapi dia malah dirawat di tempat yang tidak sesuai," uajr Baque mengenai kematian Maradona.