Minggu, 16 Agustus 2020 22:06
Ilustrasi (REUTERS)
Editor : Fathul Khair Akmal

RAKYATKU.COM - Sebuah laporan dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda yang menggunakan rokok elektrik alias vape, memiliki risiko lima sampai tujuh kali lebih besar untuk terkena virus corona.

 

Sejak pandemi Covid-19 mulai menghantam Amerika Serikat pada Maret lalu, spekulasi tentang hubungan antara vape dan virus corona telah berkembang.

Dua lembaga kesehatan di AS, Food and Drug Administration dan National Institute on Drug Abuse, dan sudah mengeluarkan peringatan.

Baca Juga : Wali Kota Makassar Ingatkan Varian Baru Covid-19

Meski penggunaan rokok elektrik dikhawatirkan memicu infeksi Covid-19, namun hanya sedikit penelitian yang dilakukan untuk mengkaji masalah tersebut.

 

Para peneliti dari Universitas Stanford menunjukkan bahwa remaja dan dewasa muda berusia 13 hingga 24 tahun yang menggunakan rokok elektrik, lima kali lebih mungkin didiagnosis dengan Covid-19 daripada mereka yang tidak menggunakan vape.

Sedangkan bagi mereka yang merupakan perokok ganda (rokok konvensional dan elektrik) berisiko tujuh kali lebih besar untuk terinfeksi virus corona.

Baca Juga : Waspada! COVID-19 Varian XBB Terdeteksi di Indonesia

“Saya tahu akan ada hubungan diantara keduanya, hanya saja saya tidak mengira risikonya bisa sebesar itu,” kata salah satu penulis penelitian, Bonnie Halpern-Felsher, Minggu (16/8/2020).

Untuk meneliti hubungan antara penggunaan e-rokok dan Covid-19 pada remaja dan orang dewasa, para peneliti mengajukan survei online kepada 4.000 responden dari seluruh 50 negara bagian AS.

Peneliti kemudian menyortir sampel agar bisa menemukan sampel berbeda yang mewakili ras dan etnis, jenis kelamin, status LGBTQ, dan komposisi usia populasi di AS dikutip dari suara.com.

Baca Juga : Berlaku 17 Juli 2022, Kemenhub Terbitkan Surat Edaran Perjalanan Dalam dan Luar Negeri

Pertanyaan yang diajukan dalam survei yang dilakukan pada awal Mei ini berkisar pada apakah mereka pernah menggunakan rokok biasa atau rokok elektronik; apakah mereka telah menggunakannya dalam 30 hari terakhir; apakah mereka telah diuji untuk Covid-19; dan apakah hasil tes mereka positif.

Para peneliti juga mengendalikan faktor risiko Covid-19 lainnya seperti apakah responden tinggal di dekat hotspot virus corona; apakah mereka kekurangan atau kelebihan berat badan yang dapat mempengaruhi fungsi paru-paru; dan untuk status sosial ekonomi mereka, yang dapat mempengaruhi seberapa baik orang dapat menjaga jarak secara sosial.

Setelah mempertimbangkan dan menganalisis survei tersebut, para peneliti akhirnya menyimpulkan bahwa pengguna ganda yang telah merokok dalam 30 hari terakhir, tidak hanya lebih mungkin untuk dites positif, tetapi mereka juga sembilan kali lebih mungkin untuk dites.

Baca Juga : Cegah Penyebaran Covid-19 Jelang Pembelajaran Tatap Muka Pemkot Makassar Lakukan Penyemprotan Disinfektan

"Survei menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik dan konvensional adalah faktor risiko signifikan yang mendasari adanya infeksi Covid-19, yang sebelumnya belum pernah ditunjukkan," pungkasnya.

TAG