Nur Hidayat Said : Rabu, 05 Agustus 2020 15:03
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Tulisan seorang pakar sosiologi Tiongkok yang tersebar luas di media sosial telah memicu perdebatan tentang banyaknya anak-anak dan keturunan kaum elite di negara itu yang memutuskan pindah ke luar negeri.

Zheng Yefu, seorang mahaguru sosiologi yang sudah pensiun dari Universitas Peking menulis, walaupun Partai Komunis Tiongkok terus memegang kekuasaan, anak-anak mereka lebih suka pindah secara permanen ke negara-negara barat.

Tidak jelas berapa banyak anak para pemimpin Partai Komunis Tiongkok yang tinggal di luar negeri, tetapi ada sejumlah anak pejabat tinggi yang belajar di universitas-universitas terkenal Amerika Serikat.

Xi Mingze, putri satu-satunya Presiden Xi Jinping, adalah lulusan Universitas Harvard. Dua dari tiga pimpinan tertinggi Tiongkok, mantan presiden Zhao Ziyang dan Jiang Zemin punya beberapa cucu yang belajar di Universitas Harvard.

Jia Qinglin, mantan anggota Komite Tetap Politbiro Partai Komunis, punya seorang cucu yang belajar di Standford.

Harian Washington Post melaporkan sedikitnya lima dari sembilan anggota Komite Tetap yang terakhir punya anak-anak dan cucu yang belajar di Amerika.

Lembaga Kebijakan Migrasi di Washington melaporkan bahwa orang-orang kaya dan berpendidikan tinggi di Tiongkok telah menjadi pendorong utama bagi arus emigrasi dari negara itu ke Amerika.

Kata laporan dari perusahaan riset Hurun di Tiongkok, lebih dari sepertiga warga Tiongkok yang kaya “kini sedang mempertimbangkan” pindah ke negara lain, di mana terdapat sistem pendidikan yang lebih baik, dan sekaligus untuk menjauhkan diri dari kota-kota yang terdampak polusi dan pemerintahan yang menjalankan kebijakan keras.

Zheng Yefu mencatat bahwa anak-anak sejumlah pemimpin Partai Komunis Tiongkok tampaknya tidak berminat mewarisi kekuasaan politik orang tua mereka dan lebih suka pindah ke luar negeri, khususnya ke Amerika.

Sumber: VOA Indonesia