Jumat, 10 Juli 2020 17:27

Pasien Corona yang Sembuh Baru 46 Persen, Ahli Bilang Rapid Test Hanya Buang Duit dan Tenaga

Alief Sappewali
Konten Redaksi Rakyatku.Com
ILUSTRASI
ILUSTRASI

Belum ada formula jitu untuk menekan penyebaran virus corona. Buktinya, angka positif terus bertambah. Dalam 24 jam terakhir kembali bertambah 1.611 kasus.

RAKYATKU.COM - Belum ada formula jitu untuk menekan penyebaran virus corona. Buktinya, angka positif terus bertambah. Dalam 24 jam terakhir kembali bertambah 1.611 kasus.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Virus Corona Achmad Yurianto mengatakan, hingga Jumat (10/7/2020) pukul 12.00 WIB, total kasus mencapai 72.347. Terhitung sejak diumumkannya kasus pertama pada 2 Maret 2020.

Dalam periode yang sama, diketahui ada penambahan 878 pasien Covid-19 yang sembuh. Mereka dinyatakan tidak lagi terinfeksi virus corona setelah dua kali pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) memperlihatkan hasil negatif. 

Dengan demikian, saat ini sudah ada 33.529 pasien yang dinyatakan sembuh setelah sempat terpapar Covid-19. Namun, angka tersebut baru sekitar 46 persen dari total pasien positif corona.

Sementara pasien Covid-19 yang meninggal dunia pada periode 9-10 Juli 2020 diketahui ada 52 pasien Covid-19 yang tutup usia. Sehingga totalnya menjadi 3.469 orang.

Ahli Epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono meminta pemerintah tidak lagi menggunakan metode pemeriksaan rapid test untuk mendeteksi kasus virus corona (Covid-19). 

Menurut dia, rapid test tidak bisa mendeteksi Covid-19 dengan baik. Hanya membuang-buang uang negara. 

"Testing massal rapid test enggak ada gunanya itu. Buang duit sama buang tenaga," kata Pandu seperti dikutip dari Kompas.com, Jumat (10/7/2020). 

Pandu mengatakan, rapid test akan sangat berbahaya apabila menunjukan hasil negatif. 

"Yang negatif disangkanya sehat padahal bisa aja dia membawa virus. Itu menyebabkan di daerah pakai rapid test akan banyak peningkatan kasusnya," ujar dia. 

Oleh karena itu, Pandu menilai, pemerintah lebih baik hanya fokus pada pemeriksaan PCR. Pemerintah juga dinilai harus menghentikan pembelian alat rapid test.