RAKYATKU.COM, MAKASSAR-Kepala kantor Kecamatan, Kepulauan Sangkarrang, Firnandar Sabara membantah adanya sosialisasi pihak penambang tersebut pengerukan pasir laut PT Boskalis kepada masyarakat di Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan.
“Tidak ada sama sekali, kita juga ini baru tau kalau ada penambangan, makanya saya juga tegur, bapak ini nanti ada masalah baru melapor, saya bilang bicara sendiri sama masyarkaat, apa keinginannya masyarakat,” katanya, Minggu (05/07/2020).seperti rilis yang diterima Rakyatku.com.
Namun saat dikonfirmasi Pelindo IV, mengaku pihak perusahaan telah menyampaikan kepada masyarakat terkait adanya tambang pengerukan pasir laut tersebut.
“Sebelum dilaksanakan ini proyek, sebelum kita mendapatkan izin itu kita selalu komunikasi sama masyarakat disana, masyarakat yang berkaitan dengan semua proyeknya Pelindo IV,” sebut Humas Pelindo IV, Anna Maryani.
Dirinya mengaku, mulai dari awal penambangan pihak perusahaan selalu berkomunikasi dengan masyarakat setempat.
“Sebenarnya mulai dari awal selalu komunikasi sama mereka, tetapikan yang komunikasi itu PP sama PT Boskalis. Kita itu selalu memantau,” tuturnya.
Namun Pelindo IV dan pihak pemerintah setempat, mengaku siap melakukan kordinasi untuk mencari solusi terkait dampak tersebut.
"Saat ini menurut informasi yang kami peroleh Tim PP dan Boskalis sedang melakukan koordinasi dilapangan dengan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi terbaik."jelasnya.
Dia juga menambahkan bahwa lokasi penambangan pasir telah sesuai dengan ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam Perda No 2 tahun 2019 tentang Rencana Zonasi Wilayah dan Pulau-Pulau kecil Provinsi Sulawesi Selatan.
Sebelumnya, ratusan nelayan bersama aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Makassar dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Makassar Timur menghadang kapal penambang pasir di pesisir Kepulauan Sangkarrang, Sulawesi Selatan, Sabtu (04/7/2020) lalu.
Aksi itu sebagai bentuk penolakan aktivitas penambangan pasir laut yang berdampak kerusakan lingkungan dan ekosistem laut oleh kapal sedot pasir milik PT Boskalis.
Dengan menggunakan perahu tradisional, para nelayanmengepung dan mengejar kapal hingga akhirnya kapal sedot pasir tersebut kabur meninggalkan lokasi menghindari amukan para nelayan.
