Rabu, 26 Februari 2020 12:49
Laporan Bupati Takalar Syamsari Kitta dari Amerika Serikat

Belajar dari Suku Indian

Mulyadi Abdillah
Konten Redaksi Rakyatku.Com
Syamsari Kitta
Syamsari Kitta

Laporan Bupati Takalar Syamsari Kitta dari Amerika Serikat.

PEKAN terakhir dari program kami adalah mengunjungi Minot, North Dakota. Negara bagian ini adalah bagian yang berbatasan dengan Kanada.

Semua orang AS, terutama stakeholder kami di Kansas yang mendengar bahwa kami akan ke Minot takjub, sebab Kansas saja bersalju di minus 10 derajat celsius, terasa sangat dingin bagi orang Indonesia, apalagi di Minot.

Dan betul saja, dari atas pesawat yang tampak adalah hamparan salju. Setelah mendarat di Bandara Internasional Minot dan keluar dari sistem pemanasan bandara, suhu dingin di minus 20 derajat Celsius menyapa kami.

Tentu lebih dingin lagi di malam hari antara minus 25 sampai minus 30 derajat. Di iklim seperti inilah suku-suku Indian hidup. Sebuah kehidupan dengan lingkungan yang penuh dengan tantangan.

Untuk menjangkaunya, kami berangkat dari kota Minot, pagi pukul 07.00, saat matahari belum terbit. Perjalanan ditempuh selama 1,5 jam melewati jalan highway yang mulus.

Jangan dikira bahwa lokasi tempat suku Indian ini masih terisolir, terbelakang dan minus fasum. Semua sudah modern seperti kota-kota besar lainnya.

 

Rumah-rumah mereka seperti rumah-rumah di kota, tak seperti rumah suku Indian yang ditampilkan di
film-film produksi Hollywood.

Fasilitas air yang juga bisa langsung diminum dari air kran, toiletnya sangat bersih dan semua prasarananya sama saja dengan ibu kota negara bagian.

Inilah komunitas suku yang semua fasilitasnya modern namun sedang berjuang untuk menghidupkan kembali keunikan budaya warisan leluhurnya. Maka saat perkenalan terasa keunikan namanya misalnya dari marga Elang perkasa.

Cara berpakaian mereka ala modern, gambaran pakaian kesukuan zaman dahulu hanya ada dalam koleksi gambar dan di Museum Heritage.

Cara penyambutan simple, praktis sebagaimana dipraktekkan masyarakat kota yang maju. Acara dimulai dengan perkenalan tentang suku Mandan, Hidatsa dan Arikara.

Tiga suku bersatu mendiami wilayah yang awalnya 5 juta hektar kemudian menyusut menjadi 500 ribu hektar.

Komunitas yang awalnya sekitar 5.000 orang tapi karena penyakit, peperangan dan lainnya menyusut menjadi 1000 orang. Inilah suku Indian yang terbiasa hidup di lingkungan ekstrim sebagai petani dan pemburu.

Keunikan yang pernah dimiliki dan diwariskan oleh nenek moyangnya dibangun kembali melalui pendidikan dan koleksi sejarah di museum.

Mereka memiliki college, akademi, dimana bahasa Mandan, Hidatsa dan Arikara diajarkan kembali. Tari-tarian penaklukan padang ilalang tempat hidup suku di masa lampau dipraktekkan di hadapkan kami sekitar 15 menit.

Belum lagi museum yang begitu luas dan megah, arsip-arsip pemerintahan sampai kini tersimpan rapi. Menggunakan ilmu kimia dan teknologi tinggi untuk melindungi arsip dari kerusakan.

Museum pun membuka kepada warga yang mempunyai benda dan arsip yang terkait sejarah Suku Indian untuk secara sukarela diserahkan ke museum untuk dikoleksi dan diabadikan.

Hal yang sama kami dapatkan di perjalanan hari kedua mengunjungi suku Turtle Mountain, suku ini bercerita tentang mengapa mereka disebut komunitas kura-kura. Kami diajarkan filosofi dan darimana mereka berasal.

Mereka juga punya college yang jauh lebih megah karena memang populasi suku ini lebih besar dari MHA yang kami kunjungi di hari pertama.

Kebiasaan hidup sebagai suku petani dan pemburu terus diajarkan, sampai-sampai kami disuguhi makanan ala mereka yang berisi daging bison, rusa liar, ikan di danau bersalju dan bebek.

Kata mereka, cara membuat makanan seperti ini terus diajarkan agar tetap memiliki fighting spirit dan tak melupakan akar sejarah mereka.

Di tengah keunikan suku-suku Indian ini, kita mendapati praktek tata kelola yang baik, dimana identitas sebagai suku India terus dipertahankan dengan mendirikan museum, sekolah, kampus dan terutama melestarikan kebudayaan suku Indian itu
sendiri.

Dan bukan sebaliknya, seperti sebagian dari kita yang mengaku moderen tetapi belum menerapkan tata kelola secara maksimal.

Ini pula menjadi tanda penerapan demokrasi yang baik di AS, meskipun tentu tidak sempurna, dengan memberi ruang yang luas kepada suku itu termasuk dalam menata pemerintahan sesuai aturan kesukuannya.

Pemerintah AS pun menghargai kenyataan sejarah dimana suku Indian adalah suku asli benua Amerika. Oleh karenanya, orang-orang Indian di Amerika Serikat dikenal dengan sebutan ‘Native American’, alias orang asli Amerika.

Penulis: Bupati Takalar, Syamsari Kitta
(Peserta International Visitor Leadership Program, Minot-North Dakota, AS)