Kamis, 22 Oktober 2026 19:47
PT Pelindo Jasa Maritim bersama PT Asian Bulk Logistics membahas kajian pengembangan kapal tunda listrik dalam lokakarya di Hotel Morrissey, Jakarta, Senin (12/10/2026), untuk mendorong efisiensi operasional dan layanan maritim rendah emisi.
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM,MAKASSAR – PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) bersama PT Asian Bulk Logistics (ABL) menjajaki pengembangan kapal tunda bertenaga listrik atau electric tug (e-tug) sebagai bagian dari transformasi layanan maritim yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

 

Inisiatif tersebut diproyeksikan mampu menekan biaya operasional layanan penundaan kapal sekitar 20 hingga 40 persen dibandingkan penggunaan kapal tunda konvensional.

Namun, potensi penghematan tersebut masih memerlukan kajian teknis, kelayakan investasi, dan kesiapan infrastruktur sebelum dapat direalisasikan dalam kegiatan operasional.

Baca Juga : Perkuat Keselamatan Operasional Pelabuhan, Pelindo Regional 4 Latih 36 Personel Tanggap Darurat

Kerja sama kedua perusahaan dibahas melalui lokakarya di Hotel Morrissey, Jakarta, Senin (12/10/2026), sebagai tindak lanjut dari kesepakatan kemitraan strategis PJM dan ABL.

 

Kajian ini sekaligus membuka peluang pengembangan bisnis layanan kapal tunda berbasis listrik, baik di pasar domestik maupun internasional.

Efisiensi Biaya Jadi Pertimbangan Bisnis

Baca Juga : ​PT Pelindo Jasa Maritim Perkuat Kesiapan Layanan STS di Nipah, Disambut Positif Mitra Usaha

Direktur Komersial PT Pelindo Jasa Maritim, Suhendra Ratuprawiranegara, mengatakan pengembangan kapal tunda listrik menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi baru harus mampu memberikan manfaat yang terukur, terutama dalam efisiensi biaya dan keandalan pelayanan.

“Pengembangan e-tug tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan keandalan layanan penundaan kapal. Karena itu, diperlukan kajian teknis, operasional, dan komersial yang komprehensif agar implementasinya memberikan manfaat nyata bagi perusahaan maupun pengguna jasa,” ujar Suhendra.

Baca Juga : Perkuat Kesiapan Layanan Ship-to-Ship di Nipah, Pelindo Jasa Maritim Sambut Positif Dukungan Mitra Usaha

Dari sisi ekonomi, penggunaan kapal tunda listrik diproyeksikan berpotensi mengurangi biaya operasional sekitar 20 hingga 40 persen.

Potensi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai kelayakan pengembangan teknologi kapal tunda listrik.

Meski demikian, PJM belum mengungkap besaran kebutuhan investasi, harga pengadaan kapal, maupun estimasi waktu pengembalian modal.

Baca Juga : Astra Motor Perluas Pemanfaatan Energi Surya, Targetkan Operasional Lebih Hijau Lewat Solar PV

Perusahaan juga belum menetapkan jadwal implementasi komersial karena hasil kajian masih akan digunakan untuk menentukan model bisnis dan skema investasi yang sesuai.

Tanjung Priok dan Tanjung Perak Jadi Kandidat Percontohan

Sebagai tahap awal, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya diproyeksikan menjadi lokasi percontohan pengoperasian kapal tunda listrik.

Baca Juga : Investment Forum 2026: Makassar Tawarkan Sektor Maritim Global hingga Pengembangan Kawasan Ekonomi Baru Untia

Kedua pelabuhan tersebut masih akan melalui proses penilaian untuk memastikan kesesuaian teknologi dengan kebutuhan pelayanan.

Sejumlah aspek yang menjadi perhatian meliputi karakteristik pelayanan kapal, intensitas kegiatan penundaan, kebutuhan pasokan listrik, serta ketersediaan fasilitas pengisian baterai.

Selain itu, kesiapan operasional menjadi faktor penting sebelum teknologi tersebut diterapkan.

Pemilihan lokasi percontohan tidak hanya berkaitan dengan potensi efisiensi, tetapi juga kemampuan infrastruktur pelabuhan dalam mendukung operasional kapal berbasis listrik.

Dengan demikian, Tanjung Priok dan Tanjung Perak masih berstatus sebagai kandidat lokasi percontohan, bukan pelabuhan yang telah mengoperasikan e-tug melalui program tersebut.

Investasi dan Infrastruktur Jadi Faktor Penentu

Pengembangan kapal tunda listrik membutuhkan perencanaan yang mempertimbangkan aspek teknologi, operasional, dan komersial secara bersamaan.

Salah satu kebutuhan yang dikaji adalah kesiapan infrastruktur pengisian baterai untuk menunjang kegiatan penundaan kapal.

Selain ketersediaan pasokan energi, perusahaan juga harus mempertimbangkan kesesuaian teknologi dengan karakteristik pelayanan di masing-masing pelabuhan.

Suhendra menekankan bahwa potensi penghematan biaya harus diimbangi dengan kesiapan investasi dan infrastruktur.

Hal tersebut diperlukan agar penerapan teknologi baru tidak mengurangi keselamatan maupun kelancaran pelayanan kapal.

“Prinsip utama kami adalah memastikan inovasi teknologi mampu memberikan nilai tambah bagi operasional dan pelanggan. Efisiensi biaya, keandalan layanan, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan,” tegasnya.

Melalui pendekatan tersebut, PJM dan ABL berupaya memastikan bahwa pengembangan kapal tunda listrik memiliki dasar kelayakan sebelum memasuki tahap implementasi.

Potensi Kurangi Emisi Langsung hingga 100 Persen

Selain efisiensi biaya, pengembangan e-tug juga diarahkan untuk mendukung pengurangan emisi karbon dari aktivitas layanan maritim.

Menurut kajian awal yang disampaikan perusahaan, penggunaan tenaga listrik memungkinkan pengurangan emisi langsung dari pengoperasian kapal hingga 100 persen.

Namun, angka tersebut tidak berarti keseluruhan emisi dari penggunaan kapal otomatis menjadi nol.

Besarnya pengurangan emisi secara keseluruhan tetap bergantung pada sumber energi listrik yang digunakan untuk mengisi baterai kapal.

Pengembangan teknologi ini sejalan dengan konsep green port atau pelabuhan hijau dan green shipping atau pelayaran hijau.

PJM juga mengaitkan inisiatif tersebut dengan arah kebijakan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih dari pelayaran internasional sekitar tahun 2050.

Di tingkat nasional, pengembangan kapal tunda listrik disebut turut mendukung arah transformasi Danantara dalam mendorong industri hijau dan penerapan teknologi rendah emisi.

Buka Peluang Ekspansi Bisnis Maritim

Kerja sama PJM dan ABL tidak hanya diarahkan pada pengembangan teknologi untuk kebutuhan operasional saat ini.

Hasil kajian bersama nantinya akan menjadi dasar bagi kedua perusahaan dalam menentukan model bisnis, skema investasi, serta tahapan implementasi kapal tunda listrik.

Kajian tersebut juga mencakup peluang pengembangan layanan pada wilayah operasional yang sudah ada maupun pasar baru.

Dengan demikian, pengembangan e-tug berpotensi menjadi bagian dari strategi perluasan layanan maritim PJM di dalam dan luar negeri.

Meski demikian, perusahaan belum menyampaikan target jumlah kapal yang akan dikembangkan maupun negara tujuan ekspansi bisnis.

Seluruh rencana tersebut masih bergantung pada hasil evaluasi teknis, operasional, dan komersial yang sedang dilakukan.

Transformasi Layanan Maritim Berkelanjutan

Sebagai anak usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero), PJM menjalankan sejumlah bidang usaha yang berkaitan dengan layanan maritim dan kepelabuhanan.

Lini bisnisnya mencakup jasa layanan marine, peralatan pelabuhan, galangan, pengerukan, dan utilitas kepelabuhanan.

Pengembangan kapal tunda listrik menjadi salah satu peluang inovasi dalam layanan penundaan kapal yang merupakan bagian dari kegiatan maritim perusahaan.

Melalui kerja sama dengan ABL, PJM berupaya mengkaji teknologi yang dapat mendukung efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing layanan.

Apabila hasil kajian menunjukkan kelayakan teknis dan komersial, pengembangan kapal tunda listrik berpotensi menjadi langkah baru dalam transformasi layanan kepelabuhanan nasional menuju operasional yang lebih efisien dan rendah emisi.

Untuk saat ini, kedua perusahaan masih berada pada tahap kajian sebelum menentukan keputusan investasi dan pelaksanaan proyek.

BERITA TERKAIT