Minggu, 04 Oktober 2026 02:50
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Pemerataan akses jasa keuangan di Sulawesi Selatan tidak hanya berpusat di kawasan perkotaan, tetapi terus didorong hingga ke wilayah pesisir dan pedesaan. Melalui Program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) memperluas jangkauan layanan keuangan formal bagi masyarakat perdesaan.

 

Berdasarkan laporan TPAKD Sulawesi Selatan hingga Triwulan II-2026, program EKI dan Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KNMP) telah resmi diterapkan di 6 desa strategis yang tersebar di berbagai kabupaten/kota.

Kepala OJK Sulselbar, Moh. Muchlasin, membeberkan bahwa keenam desa lokasi program KNMP dan EKI Tahun 2026 tersebut meliputi Desa Angkue (Kabupaten Bone), Desa Tongke-Tongke (Kabupaten Sinjai), Desa Bentenge (Kabupaten Bulukumba), Desa Balangloe (Kabupaten Jeneponto), Desa Aeng Batu (Kabupaten Takalar), serta Kelurahan Untia (Kota Makassar).

Baca Juga : Perkuat Rantai Pasok Kakao Sulsel, OJK dan TPAKD Kucurkan Pembiayaan Rp2,51 Miliar Bagi 38 Petani

"Melalui program Ekosistem Keuangan Inklusif ini, kami masuk ke desa-desa potensi berbasis pesisir dan pertanian. Kami tidak hanya datang memberikan sosialisasi, tetapi membangun ekosistem keuangan terpadu agar masyarakat desa terhubung langsung dengan lembaga keuangan resmi," ungkap Moh. Muchlasin saat memaparkan capaian TPAKD pada gelaran Financial Expo (FIN Expo) 2026 di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sabtu (3/10).

 

Edukasi Interaktif dan Temu Bisnis (Business Matching)

Muchlasin menjelaskan, penerapan program EKI diawali dengan pelaksanaan kegiatan edukasi keuangan komprehensif serta fasilitasi Business Matching (temu bisnis). Kegiatan ini dirancang untuk mempertemukan para pelaku usaha di desa—seperti kelompok nelayan, petani, pengrajin, dan pelaku UMKM lokal—dengan pihak perbankan serta lembaga pembiayaan.

Baca Juga : Dorong Usaha Naik Kelas, OJK dan TPAKD Sulsel Masifkan Digitalisasi 158 Ribu Merchant UMKM Lewat QRIS

Khusus di tiga desa percontohan awal, yakni Desa Angkue (Bone), Desa Tongke-Tongke (Sinjai), dan Desa Bentenge (Bulukumba), TPAKD Sulsel telah menggelar 3 kegiatan edukasi intensif dan sinergi business matching. Melalui program ini, masyarakat desa dibekali pemahaman cara mengelola keuangan usaha, menghindari jerat tengkulak maupun pinjaman ilegal, sekaligus mendapatkan skema permodalan yang sesuai dengan kebutuhan potensi lokal desa mereka.

"Masyarakat di pelosok desa sering kali terkendala jarak dan informasi untuk mengakses perbankan. Lewat EKI, kami memboyong industri jasa keuangan ke desa agar transaksi, pembukaan tabungan, hingga pengajuan kredit usaha mikro bisa dilakukan langsung di lokasi," tegas Kepala OJK Sulselbar tersebut.

Mendorong Potensi Wisata dan Ekonomi Pesisir

Baca Juga : Tembus 2,1 Juta Rekening! OJK dan TPAKD Sulsel Himpun Simpanan Pelajar Rp412,38 Miliar

Dipilihnya desa-desa seperti Desa Tongke-Tongke yang terkenal dengan wisata kawasan mangrove, hingga Kelurahan Untia sebagai sentra pesisir Makassar, bertujuan untuk memperkuat daya saing ekonomi berbasis kawasan wisata dan perikanan.

Program EKI mendorong digitalisasi pembayaran bagi para pelaku usaha wisata desa, pembentukan kelompok usaha bersama, hingga proteksi asuransi bagi para nelayan dan petani setempat.

Data pengembangan Desa EKI ini turut ditampilkan dalam papan informasi realisasi TPAKD pada ajang FIN Expo 2026 yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di TSM Makassar. Pameran ini menjadi momentum OJK untuk memperlihatkan bahwa inklusi keuangan di Sulawesi Selatan bergerak makin merata dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Baca Juga : Tembus Rp1,18 Triliun! OJK Sulselbar Dorong Sektor Pangan dan UMKM Lewat Kredit Pinisi

"Ke depan, kami bersama TPAKD akan terus menambah jumlah Desa EKI di Sulawesi Selatan. Kami ingin memastikan desa bukan lagi menjadi area yang terisolasi dari layanan keuangan, melainkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan berdaya saing," pungkas Moh. Muchlasin.