Minggu, 04 Oktober 2026 02:46
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Penguatan rantai pasok dan daya saing komoditas unggulan daerah terus menjadi fokus utama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Salah satu terobosan nyata yang dihadirkan adalah pembentukan ekosistem bisnis komoditi kakao berbasis kemitraan terintegrasi.

 

Hingga Triwulan II-2026, realisasi program pengembangan ekonomi daerah sektor kakao tersebut telah berhasil menyalurkan pembiayaan dengan nilai total mencapai Rp2,51 miliar. Pembiayaan ini disalurkan secara terukur kepada 38 petani kakao di Sulawesi Selatan.

Kepala OJK Sulselbar, Moh. Muchlasin, mengungkapkan bahwa program ini bukan sekadar memberikan pinjaman modal kerja biasa, melainkan membangun ekosistem bisnis dari hulu ke hilir yang menghubungkan petani langsung dengan pembeli siaga (offtaker).

Baca Juga : Sasar Wilayah Pesisir dan Desa, OJK Terapkan Ekosistem Keuangan Inklusif di 6 Desa Sulawesi Selatan

"Pengembangan ekosistem kakao ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk selaku penyedia fasilitas pembiayaan, dengan PT Comextra Majora yang bertindak sebagai offtaker komoditi kakao," terang Moh. Muchlasin saat memaparkan realisasi program kerja TPAKD pada ajang Financial Expo (FIN Expo) 2026 di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Sabtu (3/10).

 

Kepastian Pasar dan Solusi Pembiayaan Berkelanjutan

Menurut Muchlasin, pola kemitraan segitiga antara perbankan, pelaku industri, dan kelompok petani menjadi jawaban atas tantangan utama yang kerap dihadapi para petani kakao di daerah. Selama ini, kendala akses modal, fluktuasi harga pasar, dan keterbatasan akses penjualan sering kali membatasi produktivitas hasil tani.

Baca Juga : Dorong Usaha Naik Kelas, OJK dan TPAKD Sulsel Masifkan Digitalisasi 158 Ribu Merchant UMKM Lewat QRIS

Dengan skema offtaker terintegrasi ini, hasil panen 38 petani kakao penerima pembiayaan mendapat jaminan penyerapan pasar dengan harga yang pasti dan adil sesuai standar industri. Di sisi lain, pihak perbankan mendapat kepastian pengembalian kredit (cash flow) karena hasil penjualan kakao dikelola secara transparan dalam ekosistem pembayaran resmi.

"Kehadiran offtaker seperti PT Comextra Majora memberikan kepastian pasar bagi petani. Ketika pasar sudah pasti dan modal disokong penuh oleh BRI, para petani bisa fokus meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen kakao mereka tanpa khawatir masalah pemasaran," jelas Kepala OJK Sulselbar tersebut.

Model Percontohan Bagi Komoditas Unggulan Lain

Baca Juga : Tembus 2,1 Juta Rekening! OJK dan TPAKD Sulsel Himpun Simpanan Pelajar Rp412,38 Miliar

Keberhasilan program pengembangan ekosistem kakao senilai Rp2,51 miliar ini diharapkan dapat menjadi model percontohan (pilot project) yang direplikasi pada sektor komoditas unggulan Sulawesi Selatan lainnya, seperti kopi, rumput laut, hingga cengkeh.

Capaian ini turut dipublikasikan OJK Sulselbar sebagai bagian dari laporan kinerja TPAKD pada gelaran FIN Expo 2026 yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di TSM Makassar. Pameran ini dimanfaatkan OJK untuk mengedukasi masyarakat luas serta pelaku usaha sektor riil mengenai pentingnya kolaborasi ekosistem pembiayaan terintegrasi.

Muchlasin menegaskan OJK Sulselbar akan terus memperluas kemitraan serupa agar semakin banyak petani lokal yang tersentuh pembiayaan formal yang aman, transparan, dan berkelanjutan.

Baca Juga : Tembus Rp1,18 Triliun! OJK Sulselbar Dorong Sektor Pangan dan UMKM Lewat Kredit Pinisi

"Kami akan memacu TPAKD di kabupaten/kota untuk mereplikasi model ekosistem bisnis ini. Jika hulu hingga hilir terhubung dengan baik, kesejahteraan petani meningkat dan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Sulawesi Selatan akan makin solid," tutup Moh. Muchlasin.