RAKYATKU.COM,MAKASSAR – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Makassar dalam beberapa waktu terakhir mulai memunculkan pertanyaan lain: apakah krisis antrean BBM akan mempercepat peralihan masyarakat menuju kendaraan listrik?
Pertanyaan tersebut cukup beralasan. Ketika masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar, kendaraan listrik menawarkan konsep mobilitas yang berbeda karena tidak bergantung pada ketersediaan BBM di SPBU. Namun, realitas pasar menunjukkan bahwa fenomena antrean BBM belum serta-merta membuat masyarakat Makassar berbondong-bondong beralih ke sepeda motor listrik.
Antrean BBM di Makassar memang sempat menjadi persoalan serius. Sejumlah SPBU dipadati kendaraan, bahkan antrean dilaporkan mengular hingga badan jalan dan berdampak terhadap arus lalu lintas. Fenomena tersebut awalnya banyak terjadi pada kendaraan yang membutuhkan Solar, kemudian meluas ke pengguna Pertalite dan Pertamax.
Di tengah situasi tersebut, kendaraan listrik mendapat momentum untuk semakin diperkenalkan kepada masyarakat.
Namun, momentum tidak otomatis berarti terjadi lonjakan penjualan.
Marketing Manager Astra Motor (Asmo) Sulsel, Antofany Yusticia Ahmadi, mengatakan penjualan sepeda motor listrik di wilayah Asmo Sulsel memang menunjukkan pergerakan positif. Kendati demikian, pihaknya belum dapat menyimpulkan bahwa peningkatan tersebut secara langsung disebabkan oleh persoalan kelangkaan atau antrean BBM yang terjadi belakangan.
Baca Juga : Dian Harapan Kembali Tembus Empat Besar Honda DBL Sulsel 2026, Konsisten di Fase Akhir
“Penjualan motor listrik di wilayah Asmo Sulsel untuk saat ini memang terdapat pergerakan positif, tapi kami belum bisa menyimpulkan bahwa peningkatannya secara langsung dipengaruhi oleh kelangkaan BBM beberapa waktu terakhir,” ujar Yusticia.
Menurut dia, peningkatan penjualan kendaraan listrik lebih banyak dipengaruhi berbagai faktor, termasuk program penawaran yang tersedia di jaringan dealer Honda.
Dengan kata lain, antrean panjang di SPBU belum bisa dibaca sebagai tanda bahwa konsumen secara massal mulai meninggalkan kendaraan berbahan bakar minyak dan beralih ke kendaraan listrik.
Baca Juga : Rajawali Kembali ke Final Honda DBL Sulsel 2026, Kebangkitan Setelah Dua Musim Sulit
“Secara volume sebenarnya penjualan motor listrik untuk saat ini masih relatif terbatas, tidak seperti segmen lainnya, dan belum ada lonjakan yang signifikan,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menjadi catatan penting di tengah derasnya narasi bahwa persoalan BBM akan otomatis mendorong percepatan elektrifikasi kendaraan.
Faktanya, keputusan membeli sepeda motor bukan semata-mata ditentukan oleh harga atau ketersediaan bahan bakar. Konsumen masih mempertimbangkan harga kendaraan, jarak tempuh, waktu pengisian daya, ketersediaan fasilitas charging, kebutuhan mobilitas harian, layanan purnajual hingga nilai ekonomis kendaraan dalam jangka panjang.
Baca Juga : Tembakan Penentu Kevin Christopher Antar SMA Frater Juara AZA 3X3 Honda DBL Sulsel 2026
Data kendaraan baru di Sulawesi Selatan juga memperlihatkan bahwa penetrasi kendaraan listrik masih berada pada tahap awal. Berdasarkan data Bapenda Sulsel, sepanjang Januari hingga Agustus 2026 tercatat 2.485 kendaraan listrik dari total kendaraan dalam rekap berdasarkan bahan bakar. Jumlah itu sekitar 1,53 persen, sementara kendaraan berbahan bakar bensin masih mendominasi dengan 157.364 unit atau 96,68 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik memang mulai tumbuh, tetapi belum menjadi arus utama pasar kendaraan di Sulsel.
Karena itu, antrean BBM yang terjadi di Makassar lebih tepat dilihat sebagai sebuah momentum untuk memperluas kesadaran masyarakat mengenai alternatif energi dan moda transportasi, bukan sebagai bukti bahwa masyarakat telah melakukan migrasi besar-besaran ke kendaraan listrik.
Baca Juga : SMAN 13 Bone Bawa Pulang Gelar AZA 3X3, Menang Dramatis atas SMAN 2 Makassar
Yusticia mengatakan, kondisi pasokan BBM dan antrean yang terjadi saat ini justru dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk semakin mengenal berbagai pilihan mobilitas, termasuk kendaraan listrik.
“Kami melihat kondisi pasokan BBM dan antrean yang terjadi saat ini menjadi salah satu momentum bagi masyarakat untuk semakin mengenal dan mempertimbangkan berbagai pilihan mobilitas, termasuk kendaraan listrik,” katanya.
Menurut dia, proses membangun kesadaran hingga akhirnya konsumen memutuskan beralih ke kendaraan listrik membutuhkan waktu. Setiap konsumen mempunyai kebutuhan dan pertimbangan yang berbeda.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tantangan terbesar kendaraan listrik saat ini bukan sekadar soal memperkenalkan produknya, tetapi juga mengubah kebiasaan dan persepsi konsumen.
Selama bertahun-tahun, masyarakat terbiasa dengan kendaraan berbahan bakar minyak yang dapat diisi dalam hitungan menit dan memiliki jaringan SPBU yang sangat luas. Sementara kendaraan listrik membawa pola penggunaan berbeda. Konsumen harus memahami pola pengisian daya, jarak tempuh, lokasi pengisian, karakter baterai, hingga biaya kepemilikan.
Di sisi lain, kondisi antrean BBM memberikan pengalaman langsung kepada masyarakat mengenai kerentanan mobilitas yang bergantung pada satu jenis sumber energi. Ketika pasokan terganggu, antrean dapat terjadi dan waktu produktif masyarakat ikut tersita.
Bukan karena kendaraan listrik otomatis menjadi jawaban atas persoalan BBM, tetapi karena situasi tersebut membuat konsumen mulai membandingkan kembali biaya, kenyamanan, ketergantungan energi dan efisiensi dari kendaraan yang mereka gunakan.
Asmo Sulsel sendiri terus berupaya memperkenalkan produk EV Honda kepada masyarakat melalui berbagai aktivitas. Selain program penjualan di jaringan dealer, pengenalan kendaraan listrik dilakukan melalui pameran maupun display EV dalam berbagai event.
“Kami ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat teknologi dan pengalaman berkendara EV Honda, sehingga awareness terhadap kendaraan listrik dapat terus tumbuh secara bertahap,” tutur Yusticia.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa industri kendaraan listrik masih berada dalam fase membangun pasar. Bukan sekadar menjual unit, tetapi juga membangun pemahaman konsumen.
Sebab, jika persoalan BBM hanya dilihat sebagai pemicu pembelian sesaat, maka peningkatan penjualan kendaraan listrik berpotensi bersifat sementara. Sebaliknya, jika masyarakat mulai melihat kendaraan listrik sebagai pilihan mobilitas jangka panjang yang memiliki manfaat ekonomi dan praktis, maka momentum tersebut dapat berkembang menjadi perubahan perilaku konsumen.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah antrean BBM akan membuat masyarakat membeli motor listrik, tetapi apakah momentum ini mampu mengubah cara masyarakat Makassar memandang kebutuhan mobilitasnya.
Penjualan motor listrik memang bergerak positif, tetapi volumenya masih terbatas dan belum menunjukkan lonjakan signifikan. Di tengah dominasi kendaraan berbahan bakar bensin yang masih sangat besar, perjalanan menuju elektrifikasi transportasi di Sulawesi Selatan tampaknya masih panjang.
Namun satu hal mulai terlihat jelas: ketika masyarakat harus berhadapan dengan antrean BBM, pilihan kendaraan listrik yang sebelumnya mungkin hanya dianggap sebagai teknologi baru mulai masuk ke dalam perhitungan konsumen.
Apakah momentum ini akan menjadi titik balik pasar kendaraan listrik di Makassar atau hanya menjadi tren sementara, akan sangat ditentukan oleh kemampuan industri menghadirkan kendaraan yang terjangkau, infrastruktur pengisian yang memadai, layanan purnajual yang kuat serta pengalaman berkendara yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Untuk saat ini, pasar belum menunjukkan revolusi. Tetapi percakapan mengenai masa depan mobilitas di Makassar sudah mulai berubah.