RAKYATKU.COM, JAKARTA — Seri kejuaraan FIM Moto3 Junior World Championship di Sirkuit MotorLand Aragón, Spanyol, menyajikan ujian teknis dan fisik yang sangat kompleks bagi para pembalap. Karakter sirkuit yang memiliki kombinasi tikungan teknis berelevasi serta trek lurus yang sangat panjang menuntut kematangan strategi, manajemen ban, dan penguasaan unit Honda NSF250RW secara sempurna.
Hal inilah yang ditunjukkan oleh M. Kiandra Ramadhipa saat melakoni dua balapan sengit pada Minggu, 27 September 2026. Ramadhipa membuktikan kapasitasnya dalam mengadaptasi perubahan kondisi lintasan antara Race 1 dan Race 2.
Pada Race 1, kondisi suhu lintasan yang ideal memungkinkan Ramadhipa memaksimalkan traksi ban dan potensi penuh mesin Honda NSF250RW. Start dari posisi kelima, ia dengan cepat membaca ritme balapan dan langsung menusuk ke posisi keempat di lap pertama sebelum merebut pimpinan balapan di lap ketiga.
Baca Juga : Bersama Honda Asia-Dream Racing, Pembalap Binaan AHM Terus Cetak Prestasi Internasional
Pertarungan sengit yang melibatkan 12 pembalap di grup depan menuntut Ramadhipa untuk terus menjaga garis balap (racing line) yang presisi agar tidak kehilangan momentum saat berada di tikungan-tikungan cepat Aragon. Di lap terakhir, lewat aksi pengereman mendalam (late braking), ia berhasil mengamankan posisi kedua dengan selisih sangat tipis, 0,037 detik.
Tantangan Suhu Panas dan Strategi Slipstream pada Race 2
Perubahan cuaca pada siang hari membuat suhu permukaan aspal Sirkuit Aragon meningkat signifikan saat Race 2 berlangsung. Kondisi ini berdampak langsung pada tingkat keausan ban dan penurunan daya cengkeram (grip) kendaraan.
Baca Juga : Berjarak 23 Poin dari Posisi 3, Kiandra Ramadhipa Siap All-Out di Sirkuit Misano Italia
"Pada Race 2, kondisi lintasan lebih panas sehingga balapan terasa lebih sulit. Saya terus berusaha hingga tikungan terakhir dan berhasil finis di posisi keempat," jelas Ramadhipa.
Selain faktor suhu, tantangan terbesar pada Race 2 terletak pada strategi memanfaatkan arus angin atau slipstream di trek lurus menjelang garis finis. Ramadhipa yang sempat memimpin di lap kelima terus berupaya menjaga keunggulan. Namun di lap terakhir, dua pembalap di belakangnya berhasil memanfaatkan draf angin di lintasan lurus untuk melakukan overtake tepat sebelum garis finis, membuat Ramadhipa harus puas finis di posisi keempat.
Pelajaran Berharga untuk Seri Italia
Meskipun dihadapkan pada perubahan variabel cuaca dan ketatnya taktik slipstream, pemahaman teknis Ramadhipa terhadap karakter motor Honda NSF250RW terbukti makin matang. Kemampuannya dalam mengelola emosi dan tetap tenang saat berada dalam tekanan grup besar menjadi modal penting.
Evaluasi teknis dari seri Aragon ini akan menjadi bahan acuan utama bagi tim mekanik Honda Asia-Dream Racing Junior Team dalam menyiapkan setelan (setup) suspensi dan rasio gigi motor terbaik guna menyongsong karakteristik Sirkuit Misano, Italia, pertengahan Oktober mendatang.