Rabu, 23 September 2026 21:34
Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Ir. H. Abd Rakhim Nanda, ST., MT., IPU., saat membawakan kuliah umum di Chaoyang University of Technology (CYUT), Taiwan, Selasa (22/9/2026).
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, TAICHUNG — Upaya membangun ketahanan air (water resilience) tidak boleh lagi hanya bertumpu pada pembangunan fisik semata, seperti memperkuat bendungan atau saluran drainase. Di tengah ancaman perubahan iklim yang kian nyata, ketahanan air harus ditempatkan sebagai kemampuan integratif antara masyarakat, lingkungan, teknologi, dan tata kelola untuk menghadapi ketidakpastian.

 

Pesan strategis tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Dr. Ir. H. Abd Rakhim Nanda, ST., MT., IPU., saat membawakan kuliah umum di Chaoyang University of Technology (CYUT), Taiwan, Selasa (22/9/2026).

Kuliah umum bertajuk "Water Resilience: Empowering Communities, Securing a Sustainable Future—From Resilient Infrastructure to Resilient Communities in a Changing Climate" tersebut digelar di Gedung Teknik E-409 CYUT. Acara dipandu langsung oleh Wakil Presiden CYUT Dr. Sung-Chi Hsu dan dihadiri Ketua Departemen Teknik Sipil dan Konstruksi CYUT Dr. Keng-Tsang Hsu.

Baca Juga : Kuota Magang Industri Terbatas? Telkomsel Bawa Solusi Magang Virtual 'Virtuship' ke Unhas

Dalam paparannya, Rakhim menegaskan bahwa dunia kini menghadapi tiga tekanan air secara mendesak: air yang terlalu banyak (banjir dan cuaca ekstrem), air yang terlalu sedikit (kekeringan), dan air yang terlalu tercemar akibat beban sanitasi serta kerusakan ekosistem.

 

Masyarakat sebagai Pusat dan Pengenalan Konsep 'RIVER'

Salah satu poin utama yang ditekankan Rakhim adalah pentingnya menggeser paradigma dari sekadar pembangunan infrastruktur yang tangguh (resilient infrastructure) menuju pembentukan masyarakat yang tangguh (resilient communities).

Baca Juga : Kementerian UMKM dan Unismuh Makassar Dorong Penguatan Kewirausahaan Akademisi dan Masyarakat

"Infrastruktur dan teknologi memang penting, tetapi tidak cukup jika masyarakat hanya dijadikan sebagai penerima manfaat. Resilience is built with communities—not simply for them," ujar Rakhim di hadapan civitas akademika CYUT.

Pada kesempatan tersebut, Rakhim memperkenalkan kerangka konseptual RIVER sebagai model pendekatan ketahanan air yang berpusat pada masyarakat. RIVER merupakan akronim dari:

Resilient Infrastructure (Infrastruktur Tangguh)

Baca Juga : Fikri dan Faqih Bawa Nama RHIS Berprestasi di Korpasgat Karate Championship 2026

Intelligent Water Systems (Sistem Air Cerdas)

Vital Ecosystems (Ekosistem Vital)

Empowered Communities (Masyarakat Berdaya)

Baca Juga : Kesempatan Terakhir! Pendaftaran Beasiswa Kalla Gelombang 2 Dibuka Hingga 31 Agustus

Responsive and Equitable Governance (Tata Kelola Responsif dan Adil)

Rakhim menjelaskan bahwa kelima elemen tersebut wajib terintegrasi demi menciptakan keamanan air dan kehidupan yang berkelanjutan. Ia juga mengingatkan agar pemanfaatan teknologi kecerdasan tidak berhenti pada pengumpulan data semata.

"The smartest system is not the one with the most data—but the one that turns data into timely protection," tegasnya.

Baca Juga : LAZ Hadji Kalla Buka Beasiswa 2026 Gelombang II, Perkuat Investasi SDM Unggul di Kawasan Timur Indonesia

Belajar dari Pengalaman Taiwan dan Kolaborasi Riset

Selain itu, Rakhim menyoroti pentingnya pendekatan rekayasa yang menyatu dengan alam (engineer with nature) daripada memusuhi alam, serta keadilan dalam tata kelola distribusinya.

Ia turut mengulas pengalaman Taiwan saat menghadapi krisis kekeringan pada 2020–2021 lalu. Menurutnya, Taiwan berhasil membuktikan bahwa ketahanan air dibangun lewat diversifikasi—seperti interkoneksi jaringan air antardaerah, pengolahan daur ulang air, hingga desalinasi—bukan mengandalkan satu sumber air tunggal.

Rakhim menilai Indonesia dan Taiwan memiliki potensi saling melengkapi. Taiwan unggul dalam teknologi air cerdas dan rekayasa presisi, sementara Indonesia kaya akan karakteristik daerah aliran sungai (DAS) tropis, wilayah kepulauan, dan potensi laboratorium sosial-ekologis.

Ia berharap perguruan tinggi kedua negara dapat bertindak sebagai living laboratory untuk melahirkan riset bersama, inovasi, dan dampak sosial yang nyata.

"Pada akhirnya, ketahanan air bukanlah sekadar melindungi sistem air. Ini adalah tentang melindungi kehidupan. The future of water is the future of humanity," pungkas Rektor Unismuh Makassar menutup kuliah umumnya.

Gagasan yang dipaparkan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

BERITA TERKAIT