RAKYATKU.COM,MAKASSAR — Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) semakin diarahkan untuk memberikan manfaat yang tidak berhenti pada bantuan jangka pendek. Pendekatan tersebut terlihat dalam program pemberdayaan UMKM yang dijalankan PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku melalui Pelatihan Barbershop di Mall Nipah, Makassar.
Kegiatan ini menempatkan peningkatan keterampilan masyarakat sebagai salah satu instrumen pemberdayaan. Peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai teknik barber, tetapi juga diarahkan untuk memahami bagaimana keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi peluang usaha.
Langkah tersebut menjadi penting karena pemberdayaan masyarakat pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi juga mengenai kemampuan penerima manfaat untuk berkembang setelah program selesai.
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mulai dari pengenalan peralatan, teknik pemotongan rambut, perawatan dan kebersihan alat, hingga pelayanan kepada pelanggan. Aspek pengelolaan usaha juga menjadi bagian dari pembekalan agar keterampilan teknis dapat memiliki nilai ekonomi.
Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Kanwil VI SulSelBarRa Maluku, Pratikno, mengatakan pemberdayaan UMKM diarahkan agar memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan.
“Kami ingin program pemberdayaan yang dilakukan Pegadaian dapat memberikan manfaat yang nyata dan berkelanjutan. Melalui pelatihan barbershop ini, kami berharap peserta tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu mengembangkan keterampilan tersebut menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi,” ujar Pratikno.
Baca Juga : Bisnis Pegadaian Tumbuh, Program UMKM di Makassar Didorong Naik Kelas
Pendekatan tersebut sejalan dengan berbagai program Pegadaian yang menempatkan pemberdayaan sebagai bagian dari kontribusi perusahaan terhadap penguatan ekonomi masyarakat. Pegadaian menyebut program GadePreneur sebagai salah satu wadah pemberdayaan mitra binaan yang berfokus pada peningkatan kapasitas usaha.
Dalam data yang dipublikasikan Pegadaian, sebanyak 586.468 nasabah telah memperoleh akses modal melalui program pembiayaan usaha mikro. Angka tersebut memperlihatkan skala dukungan perusahaan terhadap akses permodalan usaha mikro.
Namun, akses modal saja tidak selalu cukup untuk memastikan sebuah usaha dapat berkembang. Pelaku usaha juga membutuhkan kemampuan teknis, pengelolaan keuangan, pemasaran, pelayanan pelanggan, serta kemampuan membaca perubahan kebutuhan pasar.
Baca Juga : Gebrakan Promo Asmo Sulsel: Beli Motor Listrik Honda Diskon Puluhan Juta, DP Mulai Rp200 Ribuan
Di sinilah pelatihan keterampilan memiliki posisi penting.
Seorang calon pelaku usaha yang memiliki kemampuan teknis dapat memiliki pilihan lebih luas dalam mencari penghasilan. Dalam konteks barbershop, keterampilan memotong rambut dapat digunakan untuk bekerja, memberikan layanan secara mandiri, atau dikembangkan menjadi bisnis dengan membangun basis pelanggan.
Program pemberdayaan yang berbasis keterampilan juga memiliki potensi memberikan efek lanjutan. Ketika seorang peserta berhasil membangun usaha dan usahanya berkembang, kebutuhan terhadap tenaga kerja baru dapat muncul. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima pelatihan, tetapi berpotensi meluas kepada orang lain.
Baca Juga : Bebas Antrean SPBU, Honda EV Jadi Alternatif Mobilitas Praktis dan Hemat di Tengah Kelangkaan BBM Sulawesi
Dari perspektif perusahaan, pendekatan tersebut juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Pegadaian menyatakan bahwa TJSL merupakan bagian dari kontribusi perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan. Program sosial perusahaan tidak hanya mencakup bantuan sosial, tetapi juga diarahkan pada peningkatan kualitas hidup dan pemberdayaan.
Pada 2026, Pegadaian juga menjalankan berbagai program sosial yang menekankan aspek manfaat langsung kepada masyarakat. Misalnya, program khitanan massal yang menjangkau 500 anak dari keluarga prasejahtera menjadi bagian dari implementasi TJSL dan komitmen sosial perusahaan.
Sementara di sektor ekonomi, pemberdayaan UMKM memberikan jalur berbeda karena manfaat yang diharapkan bukan hanya dirasakan pada saat program berlangsung.
Baca Juga : Pegadaian Latih Warga Makassar Jadi Barber, Peluang Usaha Jasa Makin Terbuka
Pelatihan barbershop di Makassar dapat dilihat dalam kerangka tersebut. Peserta memperoleh keterampilan yang secara langsung dapat digunakan. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan tersebut terus diasah dan dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi.
Lokasi kegiatan di Mall Nipah juga memberikan pengalaman tersendiri. Peserta mendapatkan gambaran mengenai standar pelayanan yang dibutuhkan dalam bisnis jasa di kawasan perkotaan. Lingkungan seperti ini memperlihatkan bahwa bisnis barbershop tidak semata-mata menjual jasa potong rambut, tetapi juga menjual kenyamanan, kebersihan, ketepatan layanan, dan pengalaman pelanggan.
Hal itu menunjukkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan kombinasi antara skill dan business mindset.
Pegadaian sendiri memiliki skala bisnis yang besar. Per 30 April 2026, perusahaan mencatat total aset Rp183,8 triliun dan OSL gross Rp153,6 triliun. Laba bersih pada periode yang sama mencapai Rp4,38 triliun.
Data tersebut merupakan kinerja Pegadaian secara nasional dan tidak secara khusus menggambarkan nilai atau dampak ekonomi pelatihan barbershop di Makassar. Namun, angka tersebut menunjukkan kapasitas perusahaan sebagai lembaga keuangan nasional yang memiliki ruang untuk menjalankan program pemberdayaan secara lebih luas.
Pegadaian juga melayani lebih dari 19 juta nasabah melalui lebih dari 4.000 outlet di Indonesia.
Besarnya basis nasabah dan jaringan tersebut membuat pendekatan pemberdayaan menjadi relevan untuk terus dikembangkan, terutama apabila program tidak berhenti pada pelatihan awal tetapi dilanjutkan dengan pendampingan, akses pasar, literasi keuangan, dan akses pembiayaan sesuai kebutuhan.
Bagi peserta pelatihan barbershop di Makassar, hasil paling penting dari program ini bukan sekadar kemampuan menggunakan clipper atau memahami teknik potong rambut.
Lebih dari itu, mereka mendapatkan kesempatan untuk memiliki keterampilan yang bisa dikembangkan menjadi sumber pendapatan.
Karena itu, ukuran keberhasilan program pemberdayaan ke depan dapat dilihat dari seberapa banyak peserta yang mampu mengaplikasikan keterampilan, mendapatkan pekerjaan, membuka layanan sendiri, atau mengembangkan usaha.
Dengan pendekatan seperti ini, TJSL dapat bergerak dari paradigma bantuan menuju pemberdayaan.
Pelatihan barbershop yang digelar Pegadaian di Makassar menjadi salah satu contoh bahwa investasi sosial perusahaan dapat diarahkan pada peningkatan kapasitas manusia. Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan, dukungan pembiayaan, dan pasar, program pemberdayaan memiliki peluang untuk menciptakan dampak ekonomi yang lebih panjang.