Jumat, 11 September 2026 11:44
Ki-kan Tisha Amelia Manager Program dan Kerjasama CommonRoom, Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan, A.Indra Jaya Asaad, S.Pi., M.Sc
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, MAROS — Perubahan iklim tidak lagi menjadi ancaman abstrak bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Cuaca ekstrem yang tak menentu dan fluktuasi kondisi air tambak secara ekstrem kerap memaksa para pembudidaya memanen hasil tambaknya lebih awal demi menghindari kegagalan total. Di tengah disrupsi lingkungan ini, konektivitas digital dan teknologi tepat guna kini didorong untuk hadir bukan sekadar sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai benteng pertahanan ekonomi dan sosial warga.

 

Menjawab tantangan tersebut, Manager Program dan Kerjasama Tisha Amelia menjelaskan bakal menggelar ajang tahunan Rural ICT Camp 2026 pada 14–18 September 2026 di Kabupaten Maros.

Mengangkat tema "Internet Komunitas yang Bermakna untuk Ketahanan Iklim dan Kemandirian Warga", perhelatan ini diperkirakan bakal menghimpun sekitar 150 peserta lintas sektor, mulai dari perwakilan Sekolah Internet Komunitas (SIK) dari 12 lokasi di 11 provinsi, akademisi, praktisi teknologi, pembuat kebijakan, hingga delegasi internasional dari Filipina.

Menurut Tisha Rural ICT Camp 2026 di Maros dirancang sebagai kelanjutan dari program Community-based Innovation Lab for Climate Resilience (Co_LABS) yang telah dirintis sejak 2024. Program ini memfokuskan diri pada pemanfaatan sensor lingkungan, Internet of Things (IoT), serta pengumpulan data berbasis partisipasi warga untuk memperkuat kapasitas adaptasi masyarakat pesisir.

 

Sinergi IoT dan Sektor Perikanan Budidaya

Kepala Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3), A. Indra Jaya Asaad, S.Pi., M.Sc., menegaskan bahwa integrasi antara teknologi jaringan digital dan sektor perikanan merupakan kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditawar lagi di tengah krisis iklim saat ini.

Ia mengungkapkan, kolaborasi antara BRPBAP3 dan Common Room berawal dari keprihatinan bersama terhadap ekosistem pesisir, khususnya keberadaan hutan bakau (mangrove) dan kelangsungan hidup para pembudidaya.

"Awal mulanya kita bekerja sama karena ada mangrove. Ada proyek tentang mangrove, jadi kami juga berkolaborasi di sana. Salah satu kantor kami di Marana—tempat pembukaan acara nanti—memang kami buat sebagai percontohan penanaman bakau yang bersinergi dengan budidaya, atau yang disebut silvofishery," ujar Indra Jaya Asaad.

Menurut Indra, tanaman bakau memiliki peran strategis sebagai penyerap karbon tertinggi dibanding vegetasi darat lainnya. Namun, perlindungan ekosistem pesisir tersebut harus berjalan seiring dengan penerapan teknologi pemantauan kondisi lingkungan secara real-time. Di sinilah peran core keahlian IoT dan internet komunitas milik Common Room menjadi sangat krusial bagi dunia perikanan budidaya.

Indra menuturkan kisah nyata yang kerap dialami para petambak lokal akibat tiadanya sistem peringatan dini dan pemantauan kualitas air yang memadai.

"Fakta kemarin, ada pembudidaya kami yang harus memanen ikannya sebelum usia panen karena ketiadaan air—dilema air. Kenapa? Karena memang iklim sedang begini dan kita harus beradaptasi. Harapan kami, dengan keterjadian teknologi ini, kita bisa memprediksi kapan air melimpah dan kapan air terbatas," tegasnya.

Ia menambahkan, keterbatasan alat ukur otomatis di kawasan perairan tambak sering kali membawa dampak fatal bagi biota budidaya.

"Di pesisir itu ada faktor salinitas. Dengan weather station dan sensor salinitas yang dipasang oleh Common Room, ini sangat membantu pesisir. Sebab kalau musim kemarau, air laut masuk tanpa terkontrol, salinitas meningkat drastis. Jangankan ikan bandeng, udang pun sudah pasti mati. Jadi dengan adanya teknologi ini, kita bisa membangun early warning system," tambah Indra.

Rekognisi Kebijakan dan "Twin Transformation"

Selain penerapan teknologi teknis di lapangan, Rural ICT Camp 2026 juga menjadi panggung advokasi kebijakan strategis melalui Policy Advocacy Forum. Forum ini dirancang untuk mendiskusikan pentingnya rekognisi legal dan regulasi bagi inisiatif konektivitas berbasis komunitas (Community-Centered Connectivity Initiatives / CCCI).

Salah satu fokus diskusi mendalam adalah peluang pengembangan regulatory sandbox bagi CCCI—sebuah mekanisme ruang uji coba terbatas dan terpantau bagi model operasional internet komunitas di kawasan perdesaan, 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), dan wilayah pesisir. Langkah ini diharapkan mampu mengurai hambatan klasik seperti legalitas penggunaan spektrum frekuensi, kepastian hukum, hingga keberlanjutan skema pembiayaan operasional.

Isu keberlanjutan pembiayaan ini juga diperdalam melalui agenda High-Level Subregional Roundtable yang mengusung konsep Twin Transformation Agenda—sebuah pendekatan yang menyatukan proses transformasi digital dengan transisi hijau. Forum ini mengeksplorasi potensi pendanaan alternatif di luar skema donor tradisional, seperti pendanaan APBN, APBD, Dana Desa, CSR perusahaan, hingga pemanfaatan instrumen keuangan sosial dan filantropi Islam seperti wakaf, infak, dan sedekah untuk infrastruktur digital warga.

Dari Hulu ke Hilir: Pemberdayaan UMKM Pesisir

Sinergi teknologi dan perikanan di Maros tidak berhenti pada tahap produksi di tambak, melainkan menyentuh mata rantai hilirisasi ekonomi warga. BRPBAP3 dan Common Room turut mendampingi kelompok-kelompok pengolahan dan pemasar hasil perikanan (Poklahsar) agar mampu menaikkan nilai tambah produk (added value) serta menembus pasar modern.

Indra Jaya Asaad mencontohkan keberhasilan diferensiasi produk lokal seperti pengolahan bandeng tanpa duri yang kini telah berhasil menembus ritel modern skala nasional.

"Kami di perikanan juga membina kelompok-kelompok pengolahan. Dari pembudidaya, dipelihara di keramba atau tambak, kemudian diolah oleh Poklahsar ibu-ibu menjadi bandeng cabut duri, lalu masuk ke Modern Store seperti MGG. Dulu ikan bandeng banyak tulang sehingga anak-anak enggan makan, tapi sekarang dengan inovasi tanpa duri, produk ini jadi sangat diminati," tutur Indra.

Tak hanya itu, pendampingan literasi digital dan manajemen usaha yang diberikan dalam rangkaian Sekolah Internet Komunitas mulai membuahkan hasil nyata bagi UMKM perdesaan. "Bahkan lewat pelatihan di sini, ada salah satu kelompok pembuat keripik kerinting yang berhasil mendapatkan akses pendanaan (funding). Ini menjadi cerita sukses yang membanggakan sekaligus tantangan bagi kami untuk mereplikasinya ke kelompok-kelompok lain," jelasnya.

Sektor perikanan dan krisis iklim kerap kali berdampak langsung pada kehidupan harian warga. Indra menggambarkan betapa ekstremnya dampak kekeringan di wilayah pesisir Maros hingga memaksa penyesuaian fungsi armada operasional.

"Fakta lain di musim kemarau sekarang, truk-truk pengangkut ikan kami akhirnya kami alih fungsikan menjadi truk pengangkut air bersih untuk membantu masyarakat pesisir di Lau dan Marusu. Jangankan untuk tambak, untuk air minum saja masyarakat kesulitan. Dengan pendekatan teknologi dan kolaborasi lintas sektor ini, kita harap dampak kekeringan dan krisis air bisa ditanggulangi lebih sistematis," paparnya.

Mitigasi Bencana HERMES dan Pertukaran Regional

Rangkaian kegiatan Rural ICT Camp 2026 di Maros selama lima hari juga disiati dengan pelatihan teknis Open Source Solar-Powered Irrigation Tool (OSPIT), pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk irigasi pintar, serta simulasi sistem komunikasi darurat bencana menggunakan teknologi High-frequency Emergency and Rural Multimedia Exchange System (HERMES).

HERMES menjadi perangkat vital untuk menjamin pertukaran informasi kritis saat infrastruktur telekomunikasi utama lumpuh atau tidak tersedia akibat bencana alam.

Kehadiran peserta dan praktisi dari Filipina semakin memperkuat dimensi pertukaran pembelajaran sub-regional. Sebagai sesama negara kepulauan di Asia Tenggara yang berada di garis terdepan ancaman perubahan iklim dan bencana alam, Indonesia dan Filipina dapat saling membandingkan model tata kelola jaringan berbasis warga, kepemimpinan perempuan dalam teknologi, serta strategi adaptasi iklim berbasis komunitas.

Melalui perhelatan Rural ICT Camp 2026, internet komunitas dibuktikan bukan lagi sekadar proyek penyediaan kabel dan pancaran sinyal Wi-Fi, melainkan sebuah ekosistem kebudayaan baru yang memperkuat daya tahan iklim, kemandirian pangan, serta kedaulatan ekonomi warga perdesaan dan pesisir Indonesia.

BERITA TERKAIT