Jumat, 17 Juli 2026 21:08
Pembukaan The Art wedding Gallery, jumat (17/7)
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, MAKASSAR – Industri kreatif penunjang pernikahan (wedding industry) di wilayah Indonesia Timur kini bertransformasi menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah yang menjanjikan. Fenomena pergeseran tren dari pesta pernikahan berskala besar menjadi pernikahan yang lebih intim (intimate wedding) justru memicu lonjakan frekuensi acara secara signifikan di sektor perhotelan.

 

Salah satu indikator tajam terlihat pada performa bisnis hotel bintang empat di Kota Daeng. General Manager Four Points by Sheraton Makassar, Agus Sunaryo, mengungkapkan adanya lonjakan traksi yang luar biasa pada kuartal II-2026.

"Jika berkaca pada periode enam bulan lalu, kami mencatat ada sekitar 59 wedding yang terdaftar. Namun, lonjakan yang sangat impresif justru terjadi pada bulan Juni kemarin, di mana kami berhasil mengeksekusi 33 pergelaran wedding hanya dalam waktu satu bulan," ungkap Agus Sunaryo saat ditemui di sela-sela pembukaan eksibisi The Art of Wedding Gallery Seri 10.

Baca Juga : Sinergi Olahraga dan Eco-Green, Pekan Olahraga NIPAH 2026 Gaungkan Kampanye 'Game On, Waste Gone'

Dengan rata-rata satu acara per hari, Four Points by Sheraton Makassar harus melakukan strategi manajemen operasional yang ketat. Pada hari puncak seperti Jumat, Sabtu, dan Minggu, manajemen bahkan mampu mengelola hingga empat pergelaran pernikahan sekaligus dalam satu hari tanpa menurunkan standar kualitas pelayanan.

 

Strategi Inklusif: Menghapus Stigma 'Mahal' Melalui Fleksibilitas Harga

Meskipun menyandang reputasi sebagai bagian dari jaringan hotel internasional di bawah bendera Marriott International, Four Points Makassar justru menerapkan strategi harga yang sangat inklusif dan adaptif terhadap pasar milenial maupun Gen Z. Stigma bahwa menyelenggarakan pernikahan di hotel bintang empat memerlukan biaya selangit kini perlahan dikikis.

Baca Juga : Perkuat Dominasi Properti Sulsel, GMTD Hadirkan Varian Rumah Tumbuh hingga Premium di Makassar

Agus Sunaryo menegaskan komitmen pemilik (owner) hotel untuk mempermudah masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi dalam mewujudkan momen sakral mereka.

"Pesan dari owner kami sangat jelas: tidak ada kata tidak bisa untuk menyelenggarakan pernikahan di Four Points. Kami sangat terbuka untuk bernegosiasi. Jika ada pasangan muda atau kaum Gen Z yang memiliki keterbatasan anggaran (budget), mari kita bicarakan dan cari solusinya bersama," tambah Agus.

Sebagai stimulus tambahan selama masa pameran, manajemen juga menggandeng sejumlah vendor lokal dan lembaga keuangan, termasuk Pegadaian, dengan menawarkan insentif langsung berupa potongan harga (cashback) senilai Rp10 juta bagi para calon pengantin yang melakukan kesepakatan di tempat.

Pemerintah Provinsi Dorong Hilirisasi Ekonomi Kreatif Lewat Sektor UMKM

Langkah taktis pelaku industri perhotelan ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Fatmawati Rusdi, yang hadir langsung membuka gelaran eksibisi tersebut, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi makro di wilayahnya.

Menurut Fatmawati, industri pernikahan bukan lagi sekadar urusan seremonial keluarga, melainkan sebuah ekosistem ekonomi kreatif yang masif karena melibatkan banyak sektor turunan, mulai dari perancang busana, perias (make-up artist), fotografer, videografer, hingga industri kuliner skala UMKM.

"Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas konsistensi penyelenggaraan pameran ini, yang kini telah memasuki seri ke-10. Ini bukan sekadar pameran biasa, melainkan wadah integrasi bagi para pelaku ekonomi kreatif lokal untuk memperluas jaringan koneksi, mempererat silaturahmi, sekaligus menjadi motor penggerak pasar pasar domestik," ujar Fatmawati Rusdi

Melihat tingginya daftar tunggu (waiting list) masyarakat yang ingin menyelenggarakan acara di hotel, Fatmawati bahkan mengusulkan agar frekuensi pameran serupa ditingkatkan dari yang semula dua kali setahun (per enam bulan) menjadi setiap tiga bulan sekali. Langkah ini dinilai strategis guna memberikan ruang promosi yang lebih luas bagi pelaku UMKM sektor makanan dan minuman (food truck & kuliner lokal) yang turut dilibatkan dalam ekosistem pameran ini.

Dengan sinergi yang kuat antara sektor perhotelan, vendor kreatif, UMKM, dan dukungan penuh dari regulasi pemerintah daerah, industri pernikahan di Sulawesi Selatan optimistis dapat terus mencetak pertumbuhan positif dan menjadi barometer industri kreatif di kawasan Indonesia Timur.

BERITA TERKAIT