Kamis, 09 Juli 2026 22:38
Editor : Syukur Nutu

RAKYATKU.COM, MAKASSAR – Produk kerajinan binaan PT Vale tersebut ditampilkan dalam kegiatan Pendampingan Kewirausahaan dan Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM Wilayah Sekitar Tambang dan Hulu Migas. Agenda ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dekranas ke-46 yang berlangsung di Makassar pada 9-11 Juli 2026.

 

Bagi PT Vale, pengenalan anyaman teduhu merupakan bagian dari strategi investasi sosial untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat secara jangka panjang. Melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), penguatan produk lokal ini difokuskan pada aspek keberlanjutan tradisi melalui program regenerasi yang terukur.

Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, menjelaskan bahwa perusahaan menaruh perhatian besar pada keberlangsungan kearifan lokal. Saat ini, PT Vale membina generasi kedua pengrajin yang berusia 16 hingga 23 tahun untuk meneruskan keahlian para pengrajin senior yang kini berusia 40 hingga 50 tahun.

Baca Juga : PT Vale Indonesia IGP Pomalaa Tanam Pohon Bersama Pelajar Kolaka

"Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi dan tradisinya tetap lestari. Untuk itu, PT Vale memberikan pendampingan, mulai dari pengenalan bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), manajemen usaha, hingga membuka akses pasar seluas-luasnya," kata Yusri.

 

Sebagai bentuk dukungan konkret, PT Vale kini membina dua komunitas, yaitu Komunitas Teduhu dari Desa Nuha (12 pengrajin) yang mengolah pakis hutan, serta Komunitas Sampa Konao dari Desa Matano (10 pengrajin muda) yang mengolah pelepah pohon aren. Perusahaan juga mengintegrasikan produk ini ke dalam ekosistem bisnisnya dengan menjadikannya sebagai souvenir resmi bagi para tamu korporat serta memasarkannya di jaringan hotel dan galeri.

Pengrajin Teduhu asal Desa Nuha, Yulianti mengakui dukungan PT Vale telah membawa manfaat bagi pengrajin di desanya. Tradisi menganyam yang sudah ada sejak tahun 1970-an kini terus berkembang secara estetika dan variasi produk sejak para pengrajin mulai memanfaatkan serat teduhu pada tahun 2006.

Baca Juga : PT Vale Indonesia Raih Dua Penghargaan HR Asia Best Companies to Work for in Asia Awards

"Bersama PT Vale, kami bisa melakukan inovasi produk mulai dari kotak tisu hingga tas modern, sekaligus mengajak anak-anak muda di desa untuk ikut menjaga tradisi ini agar tidak punah. Kesempatan mengenalkan teduhu di ajang Dekranas ini sangat berharga untuk memperluas pasar dan membuka peluang kerja sama baru," tutur Yulianti optimis.

Kehadiran produk lokal ini sukses memikat Ketua Harian Dekranas, Tri Tito Karnavian, bersama Wakil Ketua II Dekranas, Sri Suparni Bahlil Lahadalia. Keduanya secara khusus mengunjungi booth PT Vale untuk berbincang dengan para pengrajin serta mengapresiasi keunikan tas anyaman dari tanaman teduhu (pakis hutan) asal Desa Nuha dan kain motif taipa khas Danau Matano, Luwu Timur.

"Kami tentu sangat bangga melihat semangat dan antusiasme para pengrajin, khususnya pengrajin muda yang terus bermunculan. Berkat pembinaan selama ini oleh perusahaan mitra ESDM seperti PT Vale, banyak pengrajin muda yang penuh semangat dan sudah mengikuti berbagai coaching," ujar Sri Suparni Bahlil saat memberikan apresiasi di booth PT Vale.

Baca Juga : Peringati Hari Lingkungan Hidup 2026, IGP Morowali Gelar Environment Run 2026

Melalui sinergi erat bersama Kementerian ESDM, Kemenparekraf, dan Dekranas, PT Vale menegaskan kembali komitmennya bahwa penguatan potensi lokal dan pelestarian budaya merupakan investasi sosial yang tidak terpisahkan dari operasional bisnis pertambangan yang berkelanjutan.