Kamis, 12 Februari 2026 16:43
JEC ORBITA Makassar gelar operasi mata juling dan katarak gratis dalam HUT ke-25. Program ini bantu pasien kembali melihat jelas dan percaya diri.
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, MAKASSAR Bagi sebagian orang, mata juling (strabismus) bukan hanya persoalan medis. Kondisi ini kerap meninggalkan luka yang tak terlihat: rasa minder, sulit menatap lawan bicara, hingga stigma sosial yang melekat sejak masa kanak-kanak.

 

Banyak penderita tumbuh dengan rasa tidak percaya diri, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial karena tatapan mata yang tidak selaras.

Melihat realitas tersebut, RS Mata JEC ORBITA @ Makassar menghadirkan harapan baru melalui program perdana Bakti Sosial Operasi Mata Juling Gratis, yang digelar bertepatan dengan peringatan HUT ke-25 JEC ORBITA.

Baca Juga : Makassar Jadi Tuan Rumah OlympicAD VIII, Ribuan Pelajar Muhammadiyah Tumpah Ruah di Unismuh

Program ini menargetkan lima pasien strabismus untuk mendapatkan operasi korektif tanpa biaya. Bagi para penerima manfaat, tindakan ini bukan sekadar prosedur medis — melainkan peluang untuk memulai hidup dengan rasa percaya diri yang baru.

 

Lebih dari Gangguan Penglihatan

Dokter Subspesialis strabismus JEC ORBITA @ Makassar, dr. Vita Rahayu, Sp.M, menjelaskan bahwa strabismus tidak hanya berdampak pada fungsi visual, tetapi juga psikologis pasien.

Baca Juga : Macawa Fest 2026, Makassar Siap Jadi Episentrum Festival Komedi Indonesia Timur

“Strabismus sering kali memengaruhi kepercayaan diri karena stigma yang masih ada di masyarakat. Padahal kondisi ini dapat ditangani. Operasi korektif terbukti mampu meningkatkan fungsi visual sekaligus kualitas hidup pasien,” jelasnya.

Secara medis, strabismus terjadi akibat gangguan koordinasi antara otak, otot, dan saraf penggerak bola mata sehingga kedua mata tidak bergerak selaras. Dampaknya bisa berupa penglihatan ganda hingga terganggunya kemampuan melihat secara binokular.

Data global menunjukkan hampir 148 juta orang di dunia hidup dengan strabismus. Sejumlah penelitian bahkan mencatat bahwa penderitanya memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan sosial akibat kesulitan menjaga kontak mata saat berkomunikasi.

Baca Juga : OlympicAD VIII Resmi Digelar di Makassar, Diikuti 8.525 Peserta dari 36 Provinsi

Kabar baiknya, tindakan operasi terbukti memberikan perubahan signifikan, baik dari sisi fungsi penglihatan maupun aspek psikososial.

1.000 Pasien Katarak Telah Dibantu

Tak hanya fokus pada strabismus, JEC ORBITA juga melanjutkan komitmennya melalui program bakti sosial operasi katarak yang telah berjalan secara berkelanjutan.

Baca Juga : Bangun Masa Depan dengan Harapan Kokoh, PIKI Sulsel Tegaskan Peran Inteligensia Kristen untuk Daerah

Sejak berdiri, lebih dari 1.000 pasien katarak telah mendapatkan kembali penglihatan mereka melalui program ini.

Ketua Panitia HUT ke-25 JEC ORBITA, dr. Sultan Hasanuddin, Sp.M, mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya menargetkan 30 penerima manfaat, terdiri dari 25 pasien katarak dan 5 pasien strabismus.

“Seluruh peserta telah melalui proses skrining ketat dan pemeriksaan medis menyeluruh. Kami memastikan setiap pasien berada dalam kondisi optimal sebelum operasi. Keselamatan dan kenyamanan tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Baca Juga : Operasi Keselamatan Pallawa 2026: Astra Motor Sulsel dan Polres Parepare Edukasi Safety Riding di SMAN 5

Tak berhenti pada tindakan operasi, para pasien juga mendapatkan pendampingan pascaoperasi hingga masa pemulihan, seluruhnya tanpa dipungut biaya.

Merayakan 25 Tahun dengan Aksi Nyata

Direktur Utama JEC ORBITA @ Makassar, Prof. Dr. dr. Habibah S. Muhiddin, Sp.M(K), menegaskan bahwa peringatan 25 tahun bukan sekadar seremoni, tetapi momentum memperkuat komitmen sosial.

“Merayakan 25 tahun artinya mempertegas komitmen untuk terus hadir bagi masyarakat. Sejalan dengan visi JEC Group dalam mengoptimalkan penglihatan dan kualitas hidup, kami ingin semakin banyak orang memiliki akses terhadap layanan kesehatan mata berkualitas,” ungkapnya.

Ia menambahkan, katarak masih menjadi penyebab kebutaan terbesar di dunia, meski sebenarnya dapat disembuhkan melalui operasi. Tantangannya, tidak semua pasien memiliki akses atau kemampuan finansial untuk menjalani tindakan tersebut.

Melalui program bakti sosial ini, JEC ORBITA berharap dapat menghadirkan lebih dari sekadar layanan medis.

Bagi para pasien, ini adalah kesempatan kedua — untuk melihat dunia dengan lebih jelas, menatap masa depan dengan optimisme, dan kembali menjalani hidup secara produktif tanpa bayang-bayang stigma.

BERITA TERKAIT