Kamis, 15 Januari 2026 15:39
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid, mendorong mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) Al Ghazali untuk mengambil peran strategis sebagai agen kerukunan dan duta moderasi beragama di tengah masyarakat.
Editor : Lisa Emilda

RAKYATKU.COM, MAKASSAR — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, Dr. H. Ali Yafid, mendorong mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM) Al Ghazali untuk mengambil peran strategis sebagai agen kerukunan dan duta moderasi beragama di tengah masyarakat.

 

Pesan tersebut disampaikan Ali Yafid saat membuka Dialog Penguatan Moderasi Beragama dan Dakwah Inklusif bagi Mahasiswa, hasil kerja sama Kanwil Kemenag Sulsel dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulsel, yang digelar di Kampus UIM, Kamis (15/1/2026).

“Mahasiswa adalah wajah masa depan bangsa. Ketika turun ke masyarakat, termasuk saat melaksanakan KKN, jadilah duta moderasi beragama yang menyejukkan, merangkul, dan memberi teladan,” tegas Ali Yafid di hadapan sekitar 200 mahasiswa UIM.

Baca Juga : Menag Nasaruddin Umar Buka Kegiatan Porseni Rangkaian Hari Amal Bakti ke-80 di Bone

Ia menekankan bahwa nilai-nilai moderasi beragama tidak boleh berhenti pada tataran konsep dan wacana akademik, melainkan harus dibumikan dalam praktik kehidupan sosial sehari-hari. Menurutnya, kerukunan umat beragama merupakan modal penting dalam membangun sinergi sosial, memperkuat persatuan, serta mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.

 

Ali Yafid juga mengingatkan bahwa moderasi beragama sejatinya merupakan bagian dari jati diri Islam. “Islam adalah agama yang menempatkan keseimbangan sebagai prinsip utama. Ia menjunjung norma, menolak sikap ekstrem, dan mengedepankan kemaslahatan umat,” ujarnya.

Dialog tersebut dipandang sebagai ruang strategis untuk memperkuat pemahaman mahasiswa tentang dakwah yang inklusif, humanis, dan adaptif terhadap realitas sosial yang majemuk. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.

Baca Juga : Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Provinsi Sulsel Tahun 2026 Dimulai Hari Ini

Sementara itu, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sulsel, H. Aminuddin, S.Ag., M.Ag., menjelaskan bahwa penguatan moderasi beragama merupakan bagian dari kebijakan nasional Kementerian Agama yang tertuang dalam Asta Protas Menteri Agama, khususnya agenda membangun kerukunan dan cinta kemanusiaan.

“Kerukunan tidak bisa dibiarkan tumbuh secara alamiah. Ia harus diupayakan secara aktif, terencana, dan berkelanjutan melalui kebijakan dan program keagamaan yang berdampak langsung bagi masyarakat,” kata Aminuddin.

Ia menambahkan, semangat moderasi beragama juga sejalan dengan tagline Kementerian Agama, ‘Ikhlas Beramal’, serta paradigma Layanan Keagamaan Berdampak, yang menekankan bahwa setiap program keagamaan harus menghadirkan manfaat nyata, bukan sekadar seremonial.

Baca Juga : Kemenag Sulsel dan Densus 88 Gelar Dialog Dorong Penguatan Wasathiyah di Palopo

Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. KH Muammar Bakry, menyambut baik kepercayaan Kemenag Sulsel yang menjadikan UIM sebagai kampus pertama pelaksana dialog tersebut. Ia berharap mahasiswa yang terlibat dapat menjadi motor penggerak moderasi beragama di ruang-ruang sosial yang lebih luas.

“Mudah-mudahan mahasiswa yang hadir hari ini benar-benar tampil sebagai agen kerukunan dan dakwah inklusif yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Muammar Bakry.

Sebagai peneguhan komitmen, kegiatan ditutup dengan Deklarasi Agen Kerukunan Universitas Islam Makassar yang diikuti seluruh peserta dialog. Deklarasi dipimpin oleh Ferdi Purnawirawan, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), sekaligus penerima Beasiswa Santri Berprestasi Kemenag.

Baca Juga : Kepala Kantor Wilayah Lantik 10 Pejabat Administrator di Lingkungan Kementerian Agama Sulsel

Dalam deklarasi tersebut, mahasiswa menyatakan komitmen untuk menjunjung nilai Islam rahmatan lil ‘alamin, menjaga persaudaraan dalam keberagaman, menolak kekerasan dan paham ekstrem, serta menumbuhkan kesadaran ekologis sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan.