Selasa, 11 Juli 2023 14:59
Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak (tengah), turut hadir dalam acara Youth City Changers rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) XVI 2023 di Tokka Tena Rata, Maros, Senin (10/7/2023) malam.
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM, MAROS - Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, turut hadir dalam acara Youth City Changers rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) XVI 2023 di Tokka Tena Rata, Maros, Senin (10/7/2023) malam.

 

Tiba di lokasi acara, suami Arumi Bachin itu disambut hangat tuan rumah Rakernas Apeksi, Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto, bersama Ketua Umum Apeksi, Bima Arya.

Dikemas dalam acara gala dinner, Emil Dardak berbagi cerita kepada delegasi pemuda Singapura dan Indonesia yang mengikuti Youth City Changers Rakernas Apeksi

Baca Juga : Wali Kota Makassar Janji Alokasikan Rp1 Miliar Dana Hibah untuk Masjid Al-Markaz

Pada kesempatan tersebut, Emil Dardak berbagi pengalaman saat dirinya bekerja di World Bank saat masih berusia 17 tahun tanpa digaji hingga keputusannya terjun ke dunia politik.

 

Kala itu motivasi Emil Dardak bergabung di World Bank karena ingin bekerja di bidang layanan publik. Sebab, menurutnya, bekerja tak mesti jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

"Jadi, bayangan saya waktu itu tidak harus menjadi PNS. Public service itu bisa lewat lembaga internasional, salah satunya, ya, Bank Dunia," kata Emil Dardak.

Baca Juga : Kolaborasi TPID Sulsel dan Makassar, Hadirkan MDC Cegah Inflasi di Momentum Nataru

Pada 2001 lalu dirinya nekat ke World Bank hanya untuk bisa bergabung. Kala itu, ia masih berusia 17 tahun sedangkan syarat untuk bekerja di World Bank minimal 21 tahun.

"Tujuh belas tahun modal nekat, saya datang ke World Bank. Saya bilang saya tertarik kerja di sini bukan dalam konteks cari uang, tapi pengalaman," tuturnya.

Diberi kepercayaan gabung di World Bank, Emil Dardak mengemban tugas penting, yaitu Project Completion Report (PCR) atau laporan semua proyek yang sudah selesai.

Baca Juga : Aksi Bersih-Bersih Kanal, Wali Kota Makassar dan Dandim 1408 Turun Langsung

"Saya analisa semua, akhirnya setelah mereka lihat kerjaan kita oke, ya, ada saja sumber rezeki yang datang. Kita diberikan kerjaan tanpa kontrak termasuk GIS atau Geographic Information System," lanjutnya bercerita.

Poin pentingnya, lanjut Emil Dardak, lewat cerita ini ia menyampaikan kepada para peserta Youth City Changers untuk lebih mengedepankan pengalaman dan juga jejaring.

"Awal yang saya sampaikan tadi adalah saya punya pengalaman, punya tempat di dalam (World Bank). Intinya i need to get inside there, kenal sama orang-orangnya, dikasih kerjaan yang mereka akan pakai hasilnya. Setelah itu jalan saya kebuka," tuturnya.

Baca Juga : PLN Temui Wali Kota Makassar, Minta Maaf Soal Pemadaman Bergilir

Pada 2006 setelah meraih gelar dari Universitas Asia Pasifik Ritsumeikan di Jepang, Emil Dardak melanjutkan karier di bidang energi.

Sebagai seorang profesional, Emil Dardak tak pernah berpikir menjadi kepala daerah hingga muncul tokoh-tokoh inspiratif seperti Joko Widodo (Jokowi), Ridwan Kamil, Bima Arya, hingga Danny Pomanto.

"Pak Jokowi maju di DKI (Jakarta) pada 2012, itu fenomenal. Dulu kita tidak kepikiran maju kepala daerah karena agak beda antara politik pilkada dengan kita yang bekerja profesional," ungkapnya.

Baca Juga : Wali Kota Makassar Minta Tanggung Jawab Sosial PLN Pasca Kebakaran di SMP Negeri 8

Kata dia, Kemunculan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta hingga kini menjabat sebagai Presiden Indonesia membuka ketertarikan orang tentang kepala daerah.

Hingga pada tahun-tahun berikutnya muncul tokoh, seperti Ridwan Kamil yang menjadi Wali Kota Bandung, Bima Arya menjadi Wali Kota Bogor, dan Mohammad Ramdhan Pomanto menjadi Wali Kota Makassar.

"Berurutan ada tokoh-tokoh luar biasa yang kemudian masuk. Jadi, saya juga terinspirasi. Ternyata ada ruang bagi kita yang selama ini merasa tidak ada tempat di politik untuk mengabdi sebagai kepala daerah sebagai bupati atau wali kota," beber Emil Dardak.

Pada 2015 Emil Dardak memutuskan maju dan menjadi Bupati Trenggalek dan pada 2018 kembali mencalonkan diri sebagai Wagub Jawa Timur mendampingi Khofifah Indar Parawansa dan menjabat hingga saat ini.

"Itu tadi kisah saya yang jalurnya teknokrat kemudian tiba-tiba terjun ke politik. Jadi, Kang Bima Arya punya ceritanya sendiri dan Pak Danny Pomanto punya ceritanya sendiri, tapi mereka berdua adalah inspirasi saya," jelasnya.

Sementara itu, Danny Pomanto bercerita sebelum menjabat wali kota ia adalah seorang arsitek dan konsultan empat wali kota.

Danny Pomanto mengungkapkan, saat menjadi konsultan wali kota hanya 30 persen ide yang bisa diimplementasikan sehingga tertarik maju menjadi kepala daerah dengan harapan 100 persen ide yang dituangkan dapat diimplementasikan untuk kemajuan sebuah kota.

Ibaratnya, lanjutnya, jika di luar politik hanya bisa menanam satu pohon, maka masuk ke dunia politik bisa menanam berjuta pohon untuk banyak orang.

"Sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Politik itu jalannya karena secara masif dengan kebijakan membuat jariah yang bisa kita tanam untuk rakyat," ucapnya.

BERITA TERKAIT