Minggu, 29 Agustus 2021 12:01
Editor : Alief Sappewali

RAKYATKU.COM -- Alat ukur vitamin D sederhana telah ditemukan di India. Biayanya hanya sekitar Rp7 ribuan dengan tingkat akurasi tinggi.

 

KL Deemed-to-be University yang menemukan alat ini. Sensor ini merupakan sensor defisiensi vitamin D yang paling terjangkau di pasar nasional dan internasional.

Ini digunakan untuk pemantauan kekurangan vitamin D yang cepat dan andal. Bisa membantu klinik kecil, apotik di daerah terpencil untuk mengukur kekurangan vitamin D tanpa memerlukan mesin besar.

Sensor ini telah dikembangkan oleh tim Pradeep Kumar Brahman dari Departemen Kimia bersama dengan Tummala Anusha, seorang peneliti dari kampus Andhra Pradesh institut tersebut.

 

"Kami membutuhkan waktu dua tahun untuk menyelesaikan penelitian dan menghasilkan produk ini. Sensor buatan tangan ini akurat dan dapat diandalkan untuk memantau defisiensi vitamin D di daerah terpencil di mana sumber daya terbatas tersedia," urai Dr Pradeep Kumar Brahman.

Biaya sensor kertas ini mencapai sekitar Rs 40 atau sekitar Rp7 ribuan hingga 50 atau sekitar Rp9 ribuan. Sedangkan biaya tes vitamin-D yang tersedia secara komersial di rumah sakit dan laboratorium adalah sekitar Rs 1.500 atau sekitar Rp290 ribu hingga Rs 2.000 atau sekitar Rp380 ribu.

Tim di universitas telah menguji bukti konsep dengan beberapa sampel kehidupan nyata dan menyimpulkan bahwa akurasi sensor ini lebih dari 94 persen. Setara dengan tes yang tersedia secara komersial.

Sensor menghasilkan laporan dalam waktu 30 menit, menghemat waktu penting untuk diagnosis. Karya tersebut juga telah dipublikasikan di jurnal internasional.

Sensor yang terjangkau ini telah dikembangkan dengan merancang elektroda kertas dalam dimensi tertentu dan mencetak elektroda berpola pada kertas fotokopi A4 dengan tinta yang dirancang khusus yang mencakup cairan kopolimer-ionik kobalt-perak yang didoping dan bertindak sebagai sensor untuk mendeteksi kekurangan vitamin D.

Strip, bersama dengan dua elektroda umum kemudian dicelupkan ke dalam sampel serum pasien yang mengandung larutan elektrolit dalam sel voltametri. Pengukuran amperometri dicatat pada potensial konstan.

Arus yang diperoleh sesuai dengan tingkat konsentrasi Vitamin-D. Tiga elektroda dihubungkan ke Potensiostat, yang selanjutnya dihubungkan ke monitor di mana teknisi lab dapat melihat hasil sensor Vitamin-D.

Perkembangan teknologi ini juga signifikan mengingat sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Endocrine bahwa kadar Vitamin-D yang rendah dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi dari kasus rawat inap Covid-19.

 

BERITA TERKAIT