Selasa, 24 Agustus 2021 14:38
Editor : Alief Sappewali

RAKYATKU.COM -- Hidup jadi petani memang membahagiakan. Terbiasa makan dari hasil bersimbah peluh. Mereka tidak tergoda uang yang bukan haknya.

 

Petani tipe ini ada pada Surajmal Nain. Dia berasal dari Kharainti, India.

Ceritanya, Surajmal Nain dan seorang saudaranya mengikuti program pemerintah untuk penanaman kapas. Namun, tanaman tersebut diserang hama. Akhirnya gagal panen.

Baca Juga : Lewat BPJS Ketenagakerjaan, Pemkot Parepare Asuransikan Petani dan Sawahnya

Kedua bersaudara lalu mendapat kompensasi dari pemerintah. Totalnya yang seharusnya mereka terima Rs 34.735 atau sekitar Rp6,7 juta. Dana itu ditransfer ke rekening mereka.

 

Keluarga tersebut memiliki lahan 12 hektare. Namun, hanya masing-masing 2 hektare yang ditanami kapas yang kemudian gagal panen. Sesuai ketentuan, pemerintah memberi kompensasi Rs 8.000 per hektare.

Dana itu ditransfer pada Agustus 2016. Ternyata dana yang masuk ke rekening mereka totalnya Rs 52.920 atau sekitar Rp10 juta. Lebih sekitar Rp3,5 juta dari yang seharusnya.

Merasa bukan haknya, kedua petani itu berusaha mengembalikannya kepada pemerintah. Mereka tidak mau menerima uang yang bukan haknya.

Surajmal lalu menulis surat kepada Ketua Menteri Haryana. Namun, tidak memberikan solusi apa pun. Surajmal lalu pergi ke kediaman CM di Chandigarh untuk menyampaikan keluhan itu.

Di sana juga, para pejabat gagal memberi tahu dia bagaimana cara mengembalikan uang itu.

Sekarang, setelah lima tahun tersiksa dengan uang tersebut, mereka menyampaikan curhatnya ke tehsildar. Mereka merasa telah dilecehkan atas kelebihan kompensasi yang tidak tahu harus dikembalikan ke mana itu.

 

BERITA TERKAIT