Minggu, 10 Januari 2021 10:47
Ilustrasi
Editor : Fathul Khair Akmal

RAKYATKU.COM - Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 tujuan Jakarta-Pontianak, dinyatakan hilang setelah lepas landas (take off) dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng pada Sabtu (9/1) pukul 14.36 WIB.

 

Pengamat atmosfer dan meteorologi dari STMKG, Deni Septiadi mengungkapkan, berdasarkan data satelit di sekitar Cengkareng saat insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, terdapat Awan Cumulonimbus (Cb) dengan radius bentangan awan sekitar 15 km dan suhu puncak awan mencapai-70 °C.

"Ini mengindikasikan labil tinggi dan pesawat pasti mengalami turbulen kuat ketika melewatinya," kata Deni, Minggu (10/1/2021).

Baca Juga : Viral Video Penumpang Yeti Airlines Live di Facebook Saat Pesawat Jatuh di Nepal

Deni menjelaskan, data observasi BMKG Cengkareng juga menunjukkan curah hujan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dengan jarak pandang (visibility) yang hanya 2 km meskipun layak untuk take off maupun landing.

 

"Arah angin di sekitar pesawat hilang dari level permukaan (1000 hpa) persisten dari Barat Laut, kemudian pada ketinggian 3000 m (700 hpa) persisten dari Barat Daya. Artinya dari sisi angin sebenarnya tidak memiliki indikasi cross wind yang berarti," beber dia dikutip dari kumparan.

Deni lalu menganalisis kondisi pesawat ketika itu. Berdasarkan data yang didapat dari FlightRadar24, pada pukul 14.38 WIB pesawat sudah lepas landas dengan kecepatan 230-248 knot (426-459 km/jam) dan ketinggian 5680-7993 kaki (1.7-2.4 km).

Baca Juga : 68 Penumpang Pesawat yang Jatuh di Nepal Ditemukan Tewas, 4 Orang Masih Proses Pencarian

Kemudian, lanjut Deni, pada pukul 14.39 WIB kecepatan meningkat menjadi 268-285 knot (496-528 km/jam) dengan ketinggian jelajah 9175-10667 kaki (2.8-3.3 km).

"Namun kemudian petaka 1 menit kemudian terjadi, pesawat sepertinya mengalami Stall akibat gagal climb yaitu daya angkat (lift) kurang diindikasikan dengan penurunan ketinggian ekstrem menjadi 250 kaki (76 m). Dalam 1 menit ketinggian pesawat dari yang tadinya 3.3 km menjadi 76 m," urai dia.

Jadi proses awalnya. Pesawat stall enggak mampu naik secara aerodinamis, pasti moncong agak ke atas, ekor di bawah. Pesawat pasti berputar ekstrem dan dengan ketinggian terakhir 3 Km moncong pesawat akan mengarah ke bawah diindikasikan adanya belokan pesawat dan ekstrem speed stall mencapai 200 km per jam.

Baca Juga : Pilot Pesawat T-50i Golden Eagle yang Jatuh di Blora Meninggal

Deni membeberkan, beberapa hal yang memungkinkan pesawat stall secara ekstrem dalam 1 menit adalah pesawat tidak memiliki daya angkat kemungkinan akibat gagal mesin.

"Sementara cuaca buruk atau adanya sel Cb juga mempengaruhi kondisi aerodinamis akibat turbulensi sehingga mengganggu dan mempengaruhi performa pesawat dan dapat mengarah pada gagal mesin. Posisi dan kemiringan pesawat terhadap aliran angin juga dapat mengarah pada posisi stall," jelas dia.

Lalu bagaimana dengan petir?

Baca Juga : TNI AU Beber Kronologi Pesawat Tempur T-50i Golden Eagle Jatuh di Blora

"Dengan adanya kumpulan Cb dan suhu puncak awan mencapai-70 °C, petir tentu menjadi hal yang perlu dikhawatirkan. Namun dengan teknologi sekarang ini baik pesawat pabrikan Boeing maupun Airbus body pesawat terdiri dari komposit dan memiliki static discharge yang akan mengalirkan arus berlebih petir melalui sayap dan ekor pesawat sebagaimana efek Faraday. Pesawat akan mengalami gangguan kelistrikan apabila arus petir dapat masuk ke dalam sistem pesawat namun secara teori masih bisa glading (melayang) meskipun mesin dalam keadaan mati," urai dia.