Rabu, 30 September 2020 10:02
Tomy Satria Yulianto (kiri).
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM, BULUKUMBA - Laporan harta kekayaan seorang pejabat harus dilaporkan terus-menerus untuk menghindari indikasi dugaan korupsi. Terlebih saat pejabat yang dimaksud hendak maju sebagai calon kepala daerah.

 

Pada Pilkada Bulukumba 2020, delapan calon telah melampirkan Laporan Hasil Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN) sebagai dokumen wajib yang diserahkan ke KPU.

Salah satu kandidat calon bupati Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, memiliki harta kekayaan bergerak dan tak bergerak lebih dari Rp1,3 miliar yang di dalam tercatat sejumlah kendaraan roda dua, roda empat, dan tanah.

Baca Juga : "Kita Pernah Terpuruk, tapi Kita Tetap Bangkit dan Kuat," Motivasi TSY untuk Korban Gempa Sulbar

Dilansir dari situs resmi elhkpn.kpk.go.id, Tomy Satria Yulianto bahkan ikut melaporkan sepeda Wim Cycle tahun 2016 dengan nilai Rp800 ribu. Termasuk pula satu unit motor butut merek Honda Kharisma dengan taksasi nilai Rp3,5 juta.

 

Tomy beralasan ikut melaporkan harta kekayaan sepeda dan motornya itu karena juga merupakan aset berharga. Selain itu, juga memiliki nilai histori yang mengantarkannya menjadi seorang pejabat.

"Benar, apa pun harta kekayaan itu meski dilaporkan sebagai wujud pertanggungjawaban dan keterbukaan saya ke publik. Motor itu punya nilai histori, wujudnya pun hingga kini masih ada dan terawat," ujar Tomy Satria saat dikonfirmasi awak media, Selasa (29/9/2020).

Baca Juga : Ke Sulbar, Tomy Satria dan Rombongan Distribusi Langsung Bantuan Korban Gempa

Kandidat nomor urut 3 itu mengaku, motor Honda Kharisma miliknya dibeli tahun 2004 silam saat dia masih berproses dalam karier. Motor itu pun menjadi alat transportasi dia bersama sang istri saat menjalani hidup di Kota Makassar.

"Motor itu kami gunakan saat kami masih berproses. Kala itu istri masih jadi karyawan di sebuah perusahaan dan saya masih jadi penggiat desa dan mendampingi pedagang pasar tradisional di Makassar," bebernya.

Motor tersebut juga dimanfaatkan untuk mengantar jemput istri dan anaknya ke sekolah. "Kemudian dipergunakan oleh kawan-kawan sebagai kendaraan operasional kami di kantor yang kami bentuk bersama," jelas Tomy.

Penulis : Rahmatullah