Suriawati : Rabu, 05 Agustus 2020 09:48
Foto: EPA

RAKYATKU.COM, BERIUT - Saksi mata menggambarkan bagaimana ledakan besar mengguncang ibukota Lebanon, yang menyebabkan puluhan nyawa melayang, dan ribuan orang terluka.

"Saya berada di lantai 11, dan kaca pecah. Saya mendengar dua ledakan, saya pikir bangunan akan runtuh," kata seorang saksi, dikutip BBC.

"Saya pikir saya akan mati," lanjutnya.

"Saya ingat ketika saya membuka mata, dan melihat debu di mana-mana. Dan tiba-tiba semua kaca pecah, dan alarm berbunyi, seolah-olah akan terjadi perang," kata saksi mata lain, yang berada di mal saat terjadi ledakan.

Korban selamat lainnya mengatakan, "Saya berada di taksi, dan tiba-tiba saya kehilangan pendengaran. Tampaknya saya sangat dekat."

"Saya kehilangan pendengaran selama beberapa saat. Saya tahu bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi. Dan tiba-tiba semua kaca mobil runtuh."

Menteri kesehatan Lebanon mengatakan, sedikitnya 70 orang tewas dan lebih dari 4.000 lainnya mengalami luka-luka.

Penyebab ledakan di pelabuhan kota tersebut belum ditentukan. Namun, presiden Libanon menyalahkan penyimpanan 2.750 ton amonium nitrat di gudang yang tidak diperiksa keamanannya dalam enam tahun.

Presiden Michel Aoun menulis di Twitter bahwa menyimpan 2.750 ton amonium nitrat secara tidak aman adalah hal yang "tidak dapat diterima".

Perdana Menteri Hassan Diab menyebutnya sebagai malapetaka dan mengatakan mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban. Dia berbicara tentang "gudang berbahaya" yang telah ada di sana sejak 2014.

Investigasi sedang dilakukan untuk menemukan pemicu ledakan. Dewan Pertahanan Tertinggi Libanon mengatakan mereka yang bertanggung jawab akan menghadapi "hukuman maksimum".

Rumah sakit dikbarkan kewalahan dan banyak bangunan hancur.

Presiden Aoun mengumumkan masa berkabung tiga hari, dan mengatakan pemerintah akan mengeluarkan 100 miliar lira (Rp973 miliar) untuk dana darurat.

Ledakan itu terjadi pada saat yang sensitif bagi Lebanon, yang sedang berjuang melalui krisis ekonomi.

Ketegangan juga tinggi, karena penantian vonis dalam persidangan atas pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafik Hariri dalam tiga kedepan.