RAKYATKU.COM, BARRU - Salama (50), warga Desa Lasitae, Kecamatan Tanete Rilau, Kabupaten Barru, mendadak viral di sosial media, lantaran menolak diberi Bantuan Langsung Tunai (BLT) Covid-19 dari pemerintah desa setempat.
Pria paruh baya itu sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak. Ia biasa mangkal di Pasar Pekkae, Kecamatan Barru. Hidupnya sebatang kara. Tinggal di sebuah gubuk kecil, di tengah kebun milik warga.
Kondisinya memperihatinkan. Alasan itulah yang membuat Pemerintah Desa (Pemdes) memasukkan namanya sebagai daftar penerima manfaat BLT dampak Covid-19.
Namun tidak disangka, BLT sebesar Rp600 ribu selama tiga bulan itu, enggan diterimanya. Kades Lasitae, Kartini yang mengantar langsung bantuan tersebut.
"Waktu kami serahkan bantuan ini, dia tidak mau terima. Menurutnya dia tidak berhak. Sebab dia masih kuat untuk mencari nafkah sendiri," kata Kartini.
"Salama minta bantuan ini diberikan saja kepada orang yang lebih berhak, seperti yang punya banyak anak, dan orang yang tidak bisa lagi bekerja," tutur Kartini menirukan jawaban Salama.
Jawaban Salama membuat semua orang yang ikut membawa bantuan ketika itu sangat terkejut.
Kades Lasitae lalu berkoordinasi dengan Kapolsek Tanete Rilau. Mereka sepakat ingin membujuk Salama agar uang BLT tersebut mau diterima kembali.
"Warga kita ini layak untuk menerima bantuan. Makanya saya dan Kapolsek berencana untuk membujuk dia agar mau menerima uang BLT ini lagi," tutunya.
Beredar Informasi Salama Kurang Sehat Mental
Beberapa kabar menyebutkan bahwa, Salama diduga kurang sehat secara mental, sehingga dia enggan menerima bantuan itu. Kepala Desa Lasitae, Kartini menepis kabar itu. Dia menyebut, Salama tampak baik-baik saja.
"Dia baik-baik saja. Dia tahu kalau saya Kepala Desa. Dan jawabannya ke saya waktu itu, lancar dan normal seperti orang lain," tuturnya.
Salama merupakan warga asli Desa Lasitae. Dia sudah tinggal di gubuk kecil berdinding papan berukuran 2x2 meter itu selama 10 tahun. Dia punya KTP dan asuransi kesehatan KIS yang diberikan oleh pemerintah.
"Dia warga kita, bukan pendatang. Cuma keluarganya tidak ada. Orang tuanya sudah lama meninggal. Ia tidak punya saudara apalagi istri," tutur Kartini.