RAKYATKU.COM - Penyelamatan tiga sandera di Bantaeng berlangsung dramatis, Jumat (9/5/2020). Awalnya, polisi mendapat informasi tentang kesurupan massal.
Peristiwa itu terjadi di Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng.
Pada pukul 13.00 wita, polisi menerima laporan bahwa ada warga yang mengamuk karena kesurupan.
Kapolsek Tompobulu bersama beberapa anggotanya bergegas mendatangi TKP. Tiba di lokasi, dia meminta orang yang di dalam rumah keluar.
Karena tak digubris, polisi menembakkan gas air mata lewat jendela kaca. Namun, orang yang berada di dalam rumah tetap bertahan. Tidak mau keluar.
Pada pukul 14.59 wita, Kapolsek menghubungi Kapolres Bantaeng, AKBP Wawan Sumantri. Dia melaporkan adanya satu keluarga kesurupan dan menyandera warga di Desa Pattaneteang.
AKBP Wawan mengarahkan agar dilakukan secara persuasif. Jangan ada kekerasan. Dia meminta kapolsek mengajak tokoh agama.
Pada saat yang sama, kapolres juga mengerahkan personel pengamanan terbuka dan tertutup. Juga menyiapkan tenaga medis lengkap dengan ambulans ke lokasi.
"Saat itu ada satu orang di atas rumah bernama Irfandi yang disandera. Namun, sekitar pukul 16.30 bisa meloloskan diri. Informasi yang didapat dari Irfandi bahwa ada salah seorang dari keluarga tersebut menjadi korban pembunuhan," jelas Wawan.
Kapolres dan Dandim 1410 Bantaeng tiba di lokasi sekitar pukul 16.45 wita. Mereka langsung mengarahkan untuk melakukan negosiasi agar orang yang berada di rumah tersebut keluar.
Ternyata, orang yang berada di dalam rumah tersebut tetap tidak mau keluar. Bicaranya juga tidak jelas.
"Ada permintaan orang yang di dalam rumah akan keluar kalau semua masyarakat yang menyaksikan itu bubar. Selanjutnya petugas meminta masyarakat untuk mundur. Setelah masyarakat mundur, orang di dalam rumah tersebut tetap tidak mau keluar," tambahnya.
Selanjutnya, Kapolres memerintahkan kepada Kasat Reskrim untuk menyiapkan pasukan untuk memaksa orang yang di dalam rumah keluar.
Bhabinkamtibmas dan Babinsa masuk terlebih dahulu. Disusul petugas lainnya untuk mengamankan seluruh orang yang berada di dalam rumah.
"Satu orang korban meninggal ditemukan di salah satu kamar dengan luka di seluruh tubuh. Sementara yang diamankan dibawa ke polres," ungkap Wawan.
Adapun mereka yang diamankan yakni Darwis bin Daga (50) yang merupakan kepala keluarga, Anis binti Kr Pato (istri Darwis), Rahman (anak pertama), Hastuti (anak kedua), Nurlinda (anak ketiga), Anto (anak keempat), Suci (anak keenam), Ardi Jumasing (menantu Darwis/suami Nurlinda), dan Rusni (menantu Darwis/istri Rahman).
Satu korban tewas dalam peristiwa itu gadis remaja berusia 18 tahun. Dia dibunuh dua kakak laki-lakinya, Rahman (30) dan Suprianto (20).
Kapolres Bantaeng, AKBP Wawan Sumantri menjelaskan, pembunuhan dipicu masalah siri'. Keluarga malu karena korban ketahuan berbuat asusila dengan pria bernama Usman (45) yang masih kerabat dekat.
"Korban meninggal dengan cara dipukul dengan kayu dan dibacok dengan golok," jelas Wawan, Minggu (10/5/2020).