RAKYATKU.COM - Sebuah keluarga harus terpisah dalam duka. Ibu terjebak di London. Ayah meninggal di Tanzania. Putri satu-satunya kini sendirian di Dubai.
Ibu itu bernama Sabeena Dhalla. Dia memohon otoritas Uni Emirat Arab (UEA) untuk membantunya pulang dari London, Inggris.
Suami Sabeena Dhalla, Inayat Ali Dhalla merupakan warga Tanzania. Mereka sudah lama menetap di UEA. Baru-baru ini, dia melakukan perjalanan ke kampung halamannya Tanzania untuk urusan bisnis.
Ternyata Ali tidak ditakdirkan kembali ke UEA lagi. Dia tertahan di Dar-es-Salaam --sebuah kota di Tanzania-- akibat pemberlakuan lockdown. Tidak ada penerbangan ke UEA.
Ali diketahui terinfeksi virus corona. Dia akhirnya meninggal Jumat dini hari (24/4/2020). Dua pekan sebelum ulang tahunnya yang ke-47.
Sabeena, yang berasal dari India, mengunjungi ibunya yang sakit di Inggris ketika Ali berangkat ke Tanzania. Berharap untuk kembali dalam dua hari, ia meninggalkan putrinya Hadiya (17) di apartemen keluarga Al Ghusais. Hadiya hanya ditemani pembantu.
"Aku sangat terpukul. Kami berencana untuk merayakan ulang tahun (pernikahan) ke-25 kami bulan ini. Kenapa dia harus meninggalkan kita begitu cepat?" tutur Sabeena lewat telepon dari Leicester seperti dikutip Gulf News.
Sabeena tidak bisa melupakan suaminya. Selama ini Ali sangat memanjakan Sabeena. Sering memberi hadiah. Bulan lalu, dia masih sempat mengirim buket besar pada ulang tahun istrinya.
Beberapa hari lalu, Sabeena dan Ali berbicara lewat panggilan video. Saat itu, Ali memperlihatkan oleh-oleh berupa abaya, pakaian desainer, perhiasan tas tangan yang dia beli untuk istrinya.
"Terakhir kali dia berbicara padaku, dia bertanya apakah kita akan bertemu lagi. Mungkin dia punya firasat," tambah Sabeena.
Ali punya riwayat diabetes. Mendadak sakit pada pertengahan April. Putra sulungnya, Mujtaba yang bekerja sebagai pilot di Tanzania, membawanya ke Rumah Sakit Aga Khan. Di situ, Ali terdeteksi positif Covid-19.
Mujtaba mengatakan kondisi ayahnya memburuk dengan cepat.
"Mereka menempatkan dia pada ventilator tetapi dia tidak bisa bertahan hidup dan meninggal setelah serangan jantung," kata Mujtaba kepada Gulf News.
Hadiya tidak bisa berkata-kata. Kabar duka dan kesepian karena terpisah dengan ayah, ibu, dan kakaknya membuat penderitaannya berlipat.
"Sendirian memperburuk rasa sakit. Pada saat keluarga kami seharusnya bersama dan berbagi kesedihan, ibuku tertahan di Inggris. Kakakku ada di Tanzania. Sementara aku sendirian di UEA," katanya.
Kini, Sabeena sangat berharap bisa kembali ke Dubai. "Saya mendesak pihak berwenang UEA untuk mempertimbangkan permintaan kami atas dasar kemanusiaan dan menerbangkan saya dan anak saya kembali ke UEA," harapnya.
"Saya perlu kembali ke putri saya yang sedang mengalami trauma yang tak terkatakan. Ada penerbangan repatriasi ke Dubai dari Inggris. Saya perlu izin untuk naik ke salah satu penerbangan ini," tutup Sabeena.