RAKYATKU.COM - Mata Elis Andriani berkaca-kaca. Dia tiba-tiba sedih saat mengingat kembali jenazah perawat yang ditolak warga di Semarang, Jawa Tengah.
Elis adalah kepala kamar operasi RSUD Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba. Bersama 13 rekannya, mereka kompak mengenakan pita hitam di lengan kanan atas. Dekat pundak.
Mereka menunjukkan solidaritas atas rekan mereka yang pemakamannya ditolak warga. Pita hitam itu tanda berkabung. Bukan hanya karena rekan mereka tumbang melawan Covid-19.
Penolakan pemakaman jenazah perawat itu jauh lebih menyedihkan.
"Kami berjuang bersama mereka. Ini ujian berat bagi kami. Tapi apapun itu, kami tetap harus menghadapinya. Yang kami lakukan bukan lagi tentang tanggung jawab profesi. Lebih dari itu. Ini adalah gerakan kemanusian," kata Elis.
Para perawat yang berada di garda terdepan memiliki tanggung jawab besar. Mereka dituntut jauh lebih sabar. Berusaha membuat pasien Covid-19 lebih nyaman.
"Dukungan dari orang-orang terdekat kami adalah kunci utamanya. Cinta dan ketulusan yang mereka sampaikan adalah kekuatan kami bekerja. Kita berharap, dukungan dan cinta itu datang dari sejumlah pihak. Kami butuh penguatan psikologis," tambahnya.
Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD), Fatmawati juga berharap dukungan masyarakat. Salah satunya dengan mematuhi anjuran pemerintah.
"Cukup lah kalian tetap di rumah. Biar kami di sini yang berjuang. Jaga kesehatan kalian," katanya.
"Tak kalah penting, jika kelak kami ada yang berpulang, jangan tolak jenazah kami untuk dikubur seperti yang terjadi pada saudara kami di luar sana," tuturnya.