RAKYATKU.COM - Insan koperasi dan UMKM membutuhkan kepastian suplai bahan baku Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang jauh lebih baik.
Hal ini ditegaskan Ketua Koperasi Produsen Berkah Industri Nusantara, Neddy Rafinaldi, di Jakarta, Jumat (6/3/2020).
"Ketersediaan itu sangat dibutuhkan oleh anggota kami. Hal ini kami suarakan mengingat strategisnya industri kecil dan menengah (IKM) makanan dan minuman yang bergantung pada stabilnya suplai GKR," tegas Neddy.
Neddy menambahkan, bahwa persoalan ini perlu mendapat perhatian yang serius dari Kementerian KUKM. Itu merujuk pada strategisnya potensi IKM itu sendiri.
Buktinya, jumlah IKM pengolahan nonmigas 4,4 juta, menyerap 10,1 juta tenaga kerja. Tiga puluh enam persen atau setara 1,6 juta di antaranya IKM makanan minuman.
"Mereka itu menyerap 42,5 persen atau 4,74 juta tenaga kerja dengan kontribusi 37 persen terhadap PDB sektor IKM secara keseluruhan," sambungnya.
Belum lagi, tahun 2020, IKM mamin diperkirakan tumbuh 9 persen. Kemampuan produksi gula 2,2 juta ton.
"Berdasarkan data yang kami peroleh dari Deputi ProPasar KemKUKM, tercatat Koperasi Penyalur GKR yang mendapat surat dukungan dari Kementerian KUKM sebanyak tujuh koperasi dengan jumlah anggota 847 IKM dan total kuota GKR 10.885 ton per bulan," katanya.
"Dibanding total IKM makanan minuman yang 1,6 juta, maka layanan koperasi tersebut tentu masih sangat kecil dibanding potensi IKM yang membutuhkan GKR di seluruh Indonesia.
"Dengan kondisi tersebut, KemKUKM dan Dinas Perindagkop perlu menambah jumlah koperasi penyalur. Yang sudah memohon perlu mempercepat proses rekomendasinya keluar," kata dia di sela-sela RAT Koperasi Produsen Berkah Industri Nusantara. RAT itu dihadiri pihak KemenKUKM dan Diperidagkop DKI Jakarta.
Koperasi Berkah Industri Nusantara didirikan Juni 2019 dengan jumlah anggota pendiri 23 orang. Selanjutnya proses legalisasi melalui akta notaris 19 November 2019 dan pengesahan Badan Hukum dari Dirjen AHU Kem Hukum dan HAM 6 Desember 2019.
Koperasi Berkah Industri Nusantara adalah koperasi produsen sebagai wadah dari pelaku IKM makanan minuman di Jakarta, Jatim, Jateng, dan Jabar.
Fokus menyalurkan bahan baku GKR guna menjamin kontinuitas produksi. Skema keanggotaan terdiri dari 15 IKM inti yang masing-masing memiliki mitra atau IKM plasma berkisar 20 hingga 50 IKM.