Senin, 10 Februari 2020 05:30
ILUSTRASI
Editor : Alief Sappewali

RAKYATKU.COM - Apa yang ada di pikiran Anda saat mendengar Kota Wuhan? Jawabannya dipastikan seragam: pusat penyebaran virus corona.

 

Stigma ini akan bertahan bertahun-tahun, walau wabah virus corona sudah berlalu. Sudah banyak pengalaman sebelumnya. Sebutlah di antaranya virus Ebola di Afrika.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengajak semua pihak agar berhati-hati dalam penamaan virus baru. Itu untuk menghindari stigmatisasi. Terhadap Kota Wuhan dan China dalam kasus virus corona, misalnya.

WHO sendiri tidak menyebut wabah yang telah menewaskan 600-an orang itu sebagai virus corona. Nama resminya, penyakit pernapasan akut 2019-nCoV.

 

Angka 2019 mengacu pada saat pertama kali diidentifikasi, yakni 31 Desember 2019. Sementara "nCoV" adalah singkatan dari "novel coronavirus".

"Kami pikir sangat penting bagi kami untuk memberikan nama sementara sehingga tidak ada lokasi yang dikaitkan dengan nama itu," Maria Van Kerkhove, kepala unit Emerging Diseases WHO, Jumat (7/2/2020).

"Saya yakin Anda semua telah melihat banyak laporan media yang masih menyebutnya menggunakan Wuhan atau China. Kami ingin memastikan bahwa tidak ada stigma," katanya.

Keputusan akhir tentang sebuah nama diharapkan dalam beberapa hari. WHO akan membahasnya beserta para ahli virus corona di Komite Internasional tentang Taksonomi Virus (ICTV).

Tetapi memilih nama yang lebih spesifik penuh dengan bahaya.

Di bawah seperangkat pedoman yang dikeluarkan pada tahun 2015, WHO menyarankan agar tidak menggunakan nama tempat seperti Ebola dan Zika. Kini setelah bertahun-tahun kedua kota itu tetap melekat nama virusnya.

Sylvie Briand, kepala divisi Kesiapsiagaan Bahaya Infeksi Global WHO, mengatakan, penggunaan nama tempat menciptakan beban yang tidak perlu.

Menurutnya, nama-nama yang lebih umum seperti "Sindrom Pernapasan Timur Tengah" atau "flu Spanyol" juga harus dihindari. Stigmatisasi bisa terjadi di seluruh wilayah atau kelompok etnis.

"Adalah tanggung jawab kita semua untuk memastikan bahwa tidak ada stigma yang terkait dengan penyakit ini. Profil individu yang tidak perlu dan tidak membantu berdasarkan etnis sama sekali dan tidak dapat diterima," kata Michael Ryan, kepala Program Keadaan Darurat Kesehatan WHO.

WHO juga menunjukkan bahwa menggunakan spesies hewan dalam nama dapat membuat kebingungan. Contohnya H1N1 yang secara populer dikenal sebagai "flu babi".

Ini memiliki efek besar bagi industri daging babi meskipun penyakit ini disebarkan oleh orang-orang daripada babi.

"H1N1 juga kadang-kadang juga disebut 'flu Meksiko' yang tidak terlalu baik bagi orang-orang Meksiko," kata Briand.

Para ilmuwan yang mengidentifikasi penyakit tertentu juga dilarang menggunakan istilah yang mengundang rasa takut. Seperti kata-kata "tidak diketahui" atau "fatal".

"Kami telah melihat nama-nama penyakit tertentu memprovokasi reaksi terhadap anggota komunitas agama atau etnis tertentu, menciptakan hambatan yang tidak dapat dibenarkan untuk melakukan perjalanan, perdagangan dan perdagangan, dan memicu pembantaian hewan makanan yang tidak perlu," kata WHO dalam pedomannya.

Sebagai gantinya, disarankan bahwa nama baru apa pun harus deskriptif dan menyertakan patogen kausatif jika diketahui, serta pendek dan mudah diucapkan.

"Kami benar-benar berusaha untuk senetral mungkin. Tetapi juga membantu. Karena kami perlu menyebutkan hal-hal dengan nama yang sama di mana-mana di dunia jika kami ingin menangani masalah dengan cara yang sama," kata Briand.

TAG

BERITA TERKAIT