Sabtu, 25 Januari 2020 22:04
Rusdin Tompo bersama koordinator Gowa Menyala, Andi Ainun Musfirah.
Editor : Alief Sappewali

RAKYATKU.COM - Senyum 20-an anak muda ini jadi simbol perlawanan dampak negatif teknologi. Mereka yang tergabung dalam komunitas Gowa Menyala menumbuhkan harapan.

 

Gawai telah menjadi candu bagi sebagian orang Indonesia. Beruntung, masih ada yang peduli. Membaca adalah pelita untuk meniti masa depan yang lebih cemerlang.

Anak-anak muda itu adalah peserta pendampingan literasi anak sekolah dasar. Kegiatan digelar di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sabtu (25/1/2020).

"Saya mengapresiasi kegiatan teman-teman Gowa Menyala, dengan semangat kerelawanannya melakukan gerakan literasi seperti ini," kata Rusdin Tompo, aktivis anak dan penulis, yang hadir sebagai pemateri. 

 

Rusdin pernah terlibat sebagai relawan Gowa Menyala. Dia ikut Kelas Literasi di SD Inpres Mawang, Kabupaten Gowa, Agustus 2018. 

Pembekalan dan briefing kali ini sebagai persiapan sebelum pelaksanaan Kelas Literasi di SD Inpres Balangpunia, Kecamatan Pattallassang, Gowa.

Wina Kurnia, dari gerakan Gowa Menyala, memandu sesi perkenalan. Kegiatan ini, katanya, semacam pembekalan sebelum "Hari Literasi". 

"Jadi, para relawan bisa mempersiapkan diri, apa yang mesti dilakukan jika nanti berada di lapangan," katanya.

Gowa Menyala dipimpin koordinator, Andi Ainun Musfirah. Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Alauddin. Dia bercerita, gerakan ini berawal dari keprihatinan peserta Kelas Inspirasi Gowa. 

"Mereka di antaranya, Kak Bunga, Kak Ria, Kak Yani, Kak Fai, dan Kak Accul," katanya.

"Teman-teman prihatin kondisi minat baca dan perpustakaan sekolah. Karena itu, gerakan ini bernama Gowa Menyala. Harapannya, akan menyalakan semangat pendidikan di Indonesia," jelas Ainun.

Program Gowa Menyala antara lain Literasi Sekolah. Itu jadi pilot project. Semula, kegiatan dilakukan tiap pekan. Sekarang per bulan. 

Pada saat kunjungan ke sekolah dampingan, mereka menyebutnya "Hari Literasi". Kegiatannya berupa pendampingan membaca, dan membantu adik-adik menceritakan kembali buku bacaannya. 

Ada juga kegiatan "reading challenge". Bentuk kegiatannya, berupa tantangan membantu anak hingga mahir membaca dan memahami pelajaran. 

Ada juga kegiatan "ceritakan bukumu". Pesertanya dari para relawan. Ada juga program mobil baca keliling (baling). Mobil baca ini bekerja sama Perpustakaan Abdurrasyid Daeng Lurang, Gowa.

Mobil baca itu akan ke sekolah-sekolah, membawa aneka buku bacaan.

"Ini untuk mendekatkan perpustakaan ke masyarakat, terutama anak-anak. Sebagai daya tarik. Kadang juga menghadirkan relawan pendongeng," papar Ainun.

Peserta kegiatan ini rata-rata masih tercatat sebagai mahasiswa. Mereka berasal dari beberapa perguruan tinggi, yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar. 

Latar belakang fakultas mereka juga sangat beragam. Mulai jurusan komunikasi, akuntansi, sastra, ilmu keolahragaan,  matematika, dan pendidikan luar biasa. 

Beberapa peserta sudah sarjana dan telah bekerja atau profesional. Ada yang bahkan sudah ikut sejak pertama kali Kelas Literasi diadakan pada Januari 2017.

Pembekalan tersebut dihadiri antara lain Safaruddin, koordinator layanan umum dan Nazaruddin, pejabat fungsional pustakawan Bagian Humas, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel. 

Nazaruddin menyambut positif kegiatan Gowa Menyala. Menurutnya, perpustakaan kini lebih inklusif. Bukan hanya memfasilitasi kegiatan membaca dan peminjaman buku, tapi juga membangun jejaring dan mendukung gerakan literasi yang dilakukan berbagai kalangan.

TAG

BERITA TERKAIT