Selasa, 10 Desember 2019 12:03
Seorang turis memotret letusan di Gunung Selandia Baru.
Editor : Mays

RAKYATKU.COM, SELANDIA BARU - Dua wanita Inggris, dirawat di rumah sakit. Itu akibat bencana gunung berapi Selandia Baru. Demikian diungkap otoritas Inggris yang diutus ke negara itu, tadi malam. 

 

Kedua wanita itu berada di antara 47 orang di Pulau Putih, sebuah pulau wisata vulkanik yang juga dikenal sebagai Whakaari. Tiba-tiba, pulau itu meletus dengan abu dan uap panas yang besar pada pukul 2.11 siang, Senin kemarin. 

Dari 47 orang, 34 diselamatkan dari pulau dan 31 dari mereka masih di rumah sakit. Beberapa dari mereka terluka parah. Lima tewas, delapan lainnya hilang.  

Komisaris tinggi Inggris, Laura Clarke, tidak memberikan perincian tentang cedera dua wanita Inggris itu. Tetapi banyak orang menderita luka bakar parah. 

 

"Turis-turis dari Australia, AS, Tiongkok, dan Malaysia, juga hilang atau terluka bersama warga Selandia Baru," kata perdana menteri Jacinda Ardern. 

Rekaman yang diambil dari helikopter menunjukkan, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Itu menurut kepolisian Selandia Baru.

Mereka mengatakan, mereka putus asa untuk menemukan lagi korban selamat. 

Bencana itu, segera menimbulkan pertanyaan tentang mengapa wisatawan diizinkan mengunjungi pulau itu. Setelah tingkat siaga gunung berapi, meningkat beberapa minggu sebelumnya.  

Ms Ardern mengatakan, itu adalah gunung berapi yang sangat tidak terduga, dan mengatakan pertanyaan tentang pariwisata akan dijawab oleh pihak yang berwenang. 

"Tetapi untuk saat ini, kami akan fokus pada mereka yang terjebak dalam peristiwa mengerikan ini," jelasnya.  

Pada 18 November, tingkat siaga vulkanik Pulau Putih, dinaikkan ke Level 2 pada skala nol hingga lima. Itu setelah para ilmuwan memperhatikan peningkatan aktivitas vulkanik.   

Level 2 mencakup kerusuhan vulkanik sedang hingga tinggi, dengan peringatan potensi bahaya erupsi. Tetapi White Island tetap terbuka untuk wisatawan.  

Setelah bencana, GeoNet meningkatkan kewaspadaannya ke Level 4, tetapi sejak itu turun kembali ke tiga. 

"Pulau Putih telah menjadi bencana yang menunggu untuk terjadi selama bertahun-tahun," kata Ray Cas, seorang profesor emeritus di Monash University, dalam komentar yang diterbitkan oleh Australian Science Media Centre. 

TAG

BERITA TERKAIT