RAKYATKU.COM, CALIFORNIA - Terkadang seorang ibu bisa menimbulkan bahaya bagi anak-anaknya. Seperti yang dilakukan oleh Trisha, dari California.
Dia telah meracuni anak-anaknya dengan pengobatan yang tidak perlu. Untungnya, mertuanya menyadari hal itu dan segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan dua cucunya.
Mertua Trisha, Tammy Walker Alexzander mengatakan bahwa cucunya telah dirawat di rumah sakit setidaknya lima belas kali dalam dua tahun pertama hidupnya.
Tammy mengatakan bahwa dia mulai menaruh curiga pada menantunya. Dan kekhawatirannya bertambah ketika cucu keduanya, Arianna, juga harus selalu dirawat di rumah sakit karena penyakit misterius.
Dia menduga bahwa Trisha, bisa jadi telah melakukan sesuatu pada anak-anaknya.
Dan ternyata benar. Tak lama kemudian terungkap bahwa ternyata Trisha menderita Munchausen syndrome by proxy (MSbP). Ini adalah penyakit mental yang menyebabkan pengasuh atau ibu, mengarang atau membesar-besarkan penyakit pada anak.
Sebagai contoh, Tammy menggambarkan bahwa Trisha mengklaim putranya, Alexzander, menderita kejang, lesu, migrain dan muntah. Tapi itu sebenarnya tidak terjadi.
Dan jika begitu, sang ibu tidak akan memberikan makan pada anaknya, atau memberikan obat yang tidak sesuai.
"Saya percaya dia (Alexzander) juga overdosis obat asma dan obat anti-kejang untuk menginduksi gejalanya," kata Tammy.
"Dia memiliki sejarah mengarang cerita dan dia akan mengarang penyakit dalam dirinya sendiri, tetapi saya tidak percaya bahwa seseorang yang kamu cintai, membuat orang lain yang kamu cintai sakit."
Setelah pengujian yang ketat, petugas medis tidak menemukan ada yang salah pada anak kecil itu.
Dan seorang pekerja magang kemudian menemukan popok kotor di toilet yang telah digunakan Arianna.
Akhirnya pihak rumah sakit menghubungi Departemen Anak-Anak Keluarga Florida dan kedua anak Trisha akhirnya diberikan kepada nenek mereka, setelah pertempuran di pengadilan.
Tammy mengatakan hukuman yang lebih keras harus diberlakukan bagi mereka yang menderita MSbP. Menurutnya, kasus seperti itu harus diperlakukan sebagai pelecehan, yang bertentangan dengan penyakit mental.