RAKYATKU.COM - Ratusan siswa di Lebanon telah meninggalkan pelajaran mereka di sekolah untuk bergabung dengan massa protes anti-pemerintah. Unjuk rasa yang menargetkan lembaga-lembaga negara itu saat ini memasuki minggu ketiga.
Raseel, seorang siswa berusia 16 tahun di Sidon mengungkapkan, jika para siswa telah mengatur waktu untuk bolos bersama. Mereka berjanji bertemu di luar sekolah pada pukul 7.30 pagi waktu setempat dan menuju ke zona protes utama, dikutip dari Al Jazeera, Kamis (7/11/2019).
"Kami berada di jalanan untuk memberikan masa depan yang lebih baik bagi diri kami. Karena kebanyakan dari kami lulus tanpa peluang kerja dan terpaksa meninggalkan negara itu," katanya melalui telepon.
Raseel menambahkan bahwa para siswa telah memutuskan untuk tetap berada di jalan-jalan. "Sampai kita yakin uang kita tidak dicuri dan kita melihat undang-undang untuk mengembalikan ekosistem yang telah mereka hancurkan."
"Kita bisa melanjutkan pendidikan kita nanti, karena apa gunanya jika tidak ada masa depan, tidak ada pekerjaan dan kita harus duduk di rumah," katanya.
Siswa di seluruh negeri itu juga bergabung dengan pengunjuk rasa yang telah mengarah pembangkangan sipil.
"Kami tahu para menteri dan pejabat mengambil langkah besar dari lembaga-lembaga ini," kata seorang pemrotes yang mengidentifikasi dirinya sebagai Rabieh kepada penyiar lokal MTV dari luar cabang bank sentral di utara kota Tripoli.
"Kami tidak menutup mereka untuk warga negara Libanon yang tidak punya uang. Kami akan menutup mereka dengan politisi," katanya.
Ratusan ribu warga Lebanon turun ke jalan sejak demonstrasi besar-besaran pecah pada 17 Oktober setelah pemerintah mengumumkan rencana untuk mengenakan biaya pada panggilan internet dan mengatakan pihaknya sedang mempelajari kenaikan pajak pertambahan nilai.