Selasa, 03 September 2019 03:30
Peter Coghlan. (Foto: ABC)
Editor : Nur Hidayat Said

RAKYATKU.COM - Mantan prajurit Inggris bernama Peter Coghlan (42) membeber pengakuan pernah memohon kepada ibunya untuk dibunuh. Itu karena dirinya mengalami lumpuh akibat stroke.

 

Pada 2011 lalu, kepala Coghlan terbentur yang mengakibatkannya stroke. Jenis stroke yang diidapnya pun berbeda dari jenis stroke lain. Dia didiagnosis locked-in syndrome (LIS) atau sindrom tubuh terkunci.

Sindrom ini menjadikan pria yang sebelumnya seorang prajurit Angkatan Darat Inggris sejak usia 18 tahun itu, tidak bisa bergerak maupun berkomunikasi meskipun dapat menyadari lingkungan sekitarnya.

Hanya berbaring di ranjang rumah sakit selama tiga pekan, Coghlan berkata melalui huruf-huruf alfabet yang dikedipkannya, "Bu, aku ingin mati. Tolong bunuh aku."

 

Perkataan itu pun membuat ibunya bersedih. Akan tetapi, sang ibu meminta Coghlan tetap berjuang sedikit lagi.

"Dia (ibu) berkata, 'jika kamu masih ingin mati dalam waktu tiga bulan, maka aku akan membantumu entah bagaimana. Tapi tunggu sebentar, kamu akan baik-baik saja'" kenang Coghlan dikutip DailyMail.

Keajaiban akhkirnya datang. Usai empat pekan terbaring di rumah sakit, Coghlan akhirnya memiliki kekuatan untuk menggerakkan ibu jarinya ke arah jari telunjuk. Pergerakan kecil itu merupakan awal dari perjalanan panjang Coghlan menuju pulih.

"Setelah itu, saya menjadi terobsesi. Saya menghabiskan sepanjang hari menggerakkan ibu jari dan jari telunjuk, perlahan-lahan mendekatkan keduanya," ungkapnya.

Selama enam bulan, Coghlan berhasil menyentuhkan ibu jari ke jari-jarinya yang lain. Ia juga mulai menggerakkan tangan, lengan, dan kakinya sambil berbaring. Bahkan kemajuan yang pesat, ia bisa menendang bantal dari tempat tidurnya.

Dengan latihan rutin, Coghlan pun bisa berdiri dan belajar berjalan lagi. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam berlatih berjalan di bangsal dan bahkan melakukan pull up di sisi tempat tidurnya. 

Coghlan menjadi pasien sindrom tubuh terkunci pertama yang keluar dari rumah sakit rehabilitasi Shenton Park tanpa kursi roda.

Ia pun belum membutuhkan janji dengan seorang profesional kesehatan, seperti ahli saraf atau fisioterapis sejak pulang kampung tahun 2014 lalu. Dokter tertarik mempelajari bagaimana Coghlan dapat pulih secepat itu.

Kini, Coghlan telah menulis sebuah buku bertajuk "In the Blink of an Eye: Reborn", berisi pengalamannya mengidap sindrom tubuh terkunci atau locked-in syndrome.

"Saya ingin orang-orang bertahan walau dengan stroke dan cedera otak, otak dapat sembuh dengan perjuangan," katanya.

TAG

BERITA TERKAIT