RAKYATKU.COM, WASHINGTON - Presiden AS Donald Trump menyebut Afghanistan sebagai pusat belajar terorisme.
"Wilayah itu tampaknya merupakan Universitas terorisme Harvard," kata Trump di Gedung Putih, seperti dikutip CNN.
Trump juga menyesalkan bahwa keterlibatan AS di negara itu selama hampir dua dekade adalah hal "konyol".
Dia mengatakan bahwa AS sebenarnya dapat memenangkan perang di sana dalam seminggu. "Jika kami ingin, tetapi kami tidak ingin membunuh 10 juta orang, 10 juta orang Afghanistan... dan saya tidak ingin melakukan itu," katanya.
Dia juga menembahkan bahwa AS sedang dilema untuk membawa beberapa pasukannya kembali, tetapi juga harus tetap berada di sana.
"Kami telah menjadi penjaga perdamaian di sana, selama 19 tahun dan pada titik tertentu Anda harus mengatakan itu cukup lama," katanya.
Presiden AS juga menekankan bahwa pemerintahnya sedang bernegosiasi dengan pemerintah Afghanistan dan juga Taliban.
"Kami sedang bernegosiasi. Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi Taliban dapat menghentikan kerusuhan di wilayah itu dengan sangat mudah," katanya.
Pekan lalu, Trump bertemu dengan penasihat keamanan nasional di resor golfnya di Bedminster, New Jersey, untuk meninjau kembali rencana perdamaian AS-Taliban.
Departemen Luar Negeri mengumumkan pada hari Selasa bahwa negosiator Talibannya, Zalmay Khalilzad sedang melakukan perjalanan ke Doha dan Afghanistan untuk melanjutkan diskusi dengan Taliban dan pemerintah Afghanistan mengenai proses perdamaian.