RAKYATKU.COM - China dikabarkan terus mengambil organ tahanannya untuk ditransplantasikan.
Pada tahun 2014, China mengumumkan bahwa mereka akan berhenti menggunakan narapidana yang dieksekusi sebagai sumber organ transplantasi.
Tetapi sebuah laporan yang diterbitkan hari Senin (17/06/2009) oleh pengadilan independen China menyimpulkan bahwa praktik tersebut tidak berhenti.
Menurut mereka, rumah sakit di China dapat meminta organ untuk diekstraksi atas permintaan dari donor, tanpa persetujuan para tahanan.
Penyelidikan mereka menemukan bahwa waktu tunggu untuk transplantasi di rumah sakit 'sangat singkat', dan transplantasi organ vital seperti hati dan jantung penuh dapat 'dipesan' terlebih dahulu.
"Kesimpulannya menunjukkan bahwa sangat banyak orang yang mati mengerikan tanpa alasan, bahwa lebih banyak yang menderita dengan cara yang sama dan bahwa kita semua hidup di sebuah planet di mana kejahatan ekstrem dapat ditemukan dalam kuasa mereka," kata Sir Geoffrey Nice QC, seorang jaksa penuntut di pengadilan kriminal internasional untuk bekas Yugoslavia, dikutip The Guardian.
Dia menambahkan bahwa "tidak ada bukti jika praktik itu dihentikan."
Pengadilan tersebut telah mengumpulkan kesaksian dan bukti dari narapidana, ahli medis, penyelidik hak asasi manusia dan lainnya.
Perdagangan transplantasi China diperkirakan bernilai $1 miliar. Nilai jantung sebesar $160.000, menurut Sky News.
Pada tahun 2016, laporan Bloody Harvest memperkirakan bahwa 60.000 hingga 100.000 organ ditransplantasikan setiap tahun di rumah sakit Tiongkok.
Sementara itu, pemerintah China telah berulang kali membantah tuduhan pengambilan organ secara paksa.